SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967.

SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967

SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967

SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967

SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967

Sabtu, 26 Juni 2010

CARA TEPAT MEMOMPA MOTIVASI BELAJAR ANAK SD

Dengan metode yang tepat, hasilnya pun jadi maksimal.

Kiat memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di jenjang SD, usia ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kelas rendah (kelas 1-3 SD) dan kelas atas (kelas 4-6 SD). Masing-masing kategori, menurut Karmila Wardhana, S.Psi., memiliki ciri khas yang berbeda. Ikuti lebih jauh penjelasan praktisi psikologi dari Empati Development Centre, Jakarta ini agar kita dapat mengambil langkah yang tepat.

KELAS 1-3 SD

Anak-anak di kelas bawah masih menapaki masa transisi dari taman kanak-kanak yang aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang formal. Maksudnya, mereka dituntut untuk banyak berada dalam kelas dan duduk tenang memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.

Tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih dalam usia bermain. Sayangnya, banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini. "Anak kelas 1-2 belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal sekitar 15 menit. Jadi mereka bukan nakal kalau enggak bisa diam di kelas."

Berkaitan dengan masa transisi ini pula, seperti dituturkan Mila, orang tua mesti peka dengan kemungkinan munculnya school phobia pada anak. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan dari TK ke SD sering membuat murid kelas rendah "ketakutan". Salah satu penyebabnya, menurut Mila, "Ketika di TK, misalnya, anak hanya berhadapan dengan sejumlah kecil orang dan masih bisa ditunggui. Tapi saat SD, anak, kan, harus bertemu murid-murid dari kelas 1 sampai kelas 6. Sementara orang tuanya tidak bisa menunggui."

Belum lagi masalah karakter guru. Guru-guru TK yang biasanya manis-manis dan lembut digantikan dengan guru SD yang tegas. Tidak heran kalau banyak anak berkesimpulan gurunya galak padahal guru SD memang dituntut bersikap lebih tegas karena jumlah murid yang lebih banyak. "Kondisi-kondisi seperti itu," imbuh Mila, "acapkali membuat anak jadi merasa tidak aman lalu tidak mau sekolah."

Agar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1-3 SD atau kurang lebih 6-8 tahun. Inilah pokok-pokoknya:

. Belajar sambil bermain

Pada prinsipnya hampir sama dengan cara belajar anak TK. Namun, untuk anak SD alihkan ke cara bermain yang lebih konstruktif. "Tolong ambilkan Bunda 2 cokelat, dong. Nah, di tangan Bunda sudah ada 1 cokelat. Bunda jadi punya berapa cokelat sekarang? Suasana belajar pun tak perlu harus serius. Jadi tak selalu harus belajar dibelakang meja, bisa juga sambil tiduran di lantai, misalnya.

. Manfaatkan PR

Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra. Menurut Mila, selama tidak berlebihan, sebenarnya PR banyak memberi manfaat. Salah satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah. Masalah timbul kalau anak sering dijejali PR. Inilah yang menjadi beban bagi anak.

Manfaat PR lainnya, orang tua bisa mengetahui perkembangan anak. PR juga bisa dijadikan sebagai ajang kelekatan antarorang tua-anak. "Kalau setiap kali mengerjakan PR anak selalu ditemani orang tua, maka akan terjadi kelekatan. Bahkan, orang tua bisa memasukkan penanaman bahwa belajar penting untuk masa depan. Ini, kan bisa masuk dalam obrolan saat mengerjakan PR," ujar Mila.

Jadi, walau terdengar klise, manfaat yang didapat cukup besar. Salah satunya, anak merasa mendapat dukungan moral. "Walau PR-nya terasa susah, jika ada orang tua yang menemani, anak merasa di-support."

. Beri dukungan

Dukungan memang selalu diperlukan, terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit di sekolah. Bentuknya bisa sangat sederhana, misalnya ketika anak memperoleh nilai buruk, kita tidak perlu menjatuhkan vonis bahwa ia bodoh atau pemalas. Lebih baik, luangkan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan anak.

"Sebagai awal, orang tua perlu mencari tahu perasaan anak ketika memperoleh nilai 5. Apakah ia kecewa, sedih atau biasa-biasa saja, karena jangan-jangan ia tidak mengerti bahwa nilai 5 itu berarti kurang." Lalu tetaplah beri dukungan. "Untuk hari ini enggak apa-apa dapat 5. Kamu bisa dapat nilai yang lebih baik di ulangan berikutnya, tapi kamu harus belajar." Dukungan seperti itu sangat berarti buat anak. "Kalau orang tua marah, kepercayaan diri anak malah hilang. Sudah enggak pede di sekolah, anak juga enggak pede di rumah. Kan, kasihan."

. Jadilah model yang baik

Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. "Misalnya, ketika sedang mengerjakan PR anak melihat ibunya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa anak merasa diperlakukan tidak adil. 'Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?'"

Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak "belajar", seperti menemani anak sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.

. Tetapkan jam belajar

Misalnya, dari jam 5 sampai 7 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk beristirahat sebelum waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton teve, tidak mendengarkan radio, atau tidak bermain playstation. "Harus ada komitmen seperti itu. Lama-lama anak akan terbiasa, sehingga saat tiba waktunya belajar semua anggota keluarga di rumah akan belajar, tidak ada yang berisik."

ANAK 4-6 SD

Anak-anak SD kelas atas sebenarnya sudah diharapkan memiliki self learning regulation atau kesadaran untuk belajar sendiri. Jika pada anak kelas 1-3 SD, orang tua masih sangat terlibat dalam proses belajar anak, maka pada anak kelas 4-6 SD orang tua hanya jadi pendamping saja. Mereka sudah harus tahu apa yang mesti dikerjakan.

Namun begitu, orang tua tetap perlu menumbuhkan motivasi belajarnya agar tak kendur. Caranya, ingatlah bahwa salah satu ciri anak usia ini adalah penggunaan logika yang
sudah semakin mendalam. Orang tua perlu memberi alasan-alasan yang masuk akal tentang pentingnya belajar. Berikut beberapa kiatnya:

. Kaitkan dengan kegemaran anak

Misalnya, kalau kegemaran anak adalah menonton acara kuis di TV, orang tua bisa memberi komentar. "Dia bisa menang dan dapat hadiah mobil karena pintar. Wah, pasti dari kecil dia sudah senang belajar dan bisa mengatur waktu, deh!"

. Ajak untuk membuat jadwal

Pada usia ini biasanya anak mulai memiliki banyak kegiatan. Ada latihan basket, renang, jalan-jalan dengan teman, juga main games. Oleh karena itu, libatkan anak dalam pengaturan jadwal kegiatannya. Jelaskan bahwa anak boleh memiliki kegiatan apa pun, tapi belajar merupakan prioritas utama. Dengan diberi pengertian seperti itu dan dibiarkan mengatur jadwal sendiri, ia tidak akan merasa terpaksa. Jangan lupa, keterpaksaan hanya akan mengendurkan motivasi anak dalam belajar.

. Rencanakan masa depan

Karena murid-murid kelas atas, terutama kelas 5 dan 6 sudah akan memasuki sekolah lanjutan, orang tua perlu mengajak anak mengadakan rencana masa depan. "Kamu mau masuk SMP mana? Yuk kita mulai kejar dari sekarang supaya kamu bisa lolos ke sana!"

Namun, Mila mengingatkan agar orang tua juga melihat kenyataan. Jika harapan anak terlalu tinggi, maka harus didiskusikan. "Kalau orang tua melihat anak akan sulit masuk ke salah satu sekolah favorit, ia perlu diajak mencari alternatif. 'Kalau enggak keterima di situ,
kamu mau masuk sekolah mana lagi?' Namun tentunya orang tua tetap memotivasi anak untuk belajar lebih baik."

Berdasarkan penelitian, anak-anak yang berhasil ternyata memiliki pengaturan waktu yang baik, tertib mengikuti jadwal, dan disiplin dalam belajar. Itu semua bisa didapat bila anak sudah memiliki self learning regulation.

Namun ingat, selain memotivasi anak untuk belajar, orang tua juga perlu memberinya waktu bermain. Jangan sampai tujuh hari dalam seminggu diisi kegiatan belajar terus-menerus. "Mentang-mentang Senin-nya masuk sekolah, Minggu pun diharuskan belajar. Lebih baik gunakan hari libur sebagai playtime untuk menghindari kebosanan anak akan belajar," begitu Mila menekankan.

Faras Handayani . Foto: Iman/nakita

Ciri Kecenderungan Belajar Dan Cara Belajar Anak SD dan MI

Ciri Kecenderungan Belajar Dan Cara Belajar Anak SD dan MI

Jean Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan proses akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.

Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia sekolah dasar tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.

Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:

(1) Konkrit. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. (2) Integratif; Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. (3) Hierarkis; Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .

6 indikator pengelolaan kelas yang berhasil

Pembaca sekalian, tulisan ini dibuat menyambut respon dari Ibu Ayu yang menanyakan mengenai indikator pengelolaan kelas yang berhasil. Uniknya melalui upaya menjawab pertanyaan beliau saya malah mendapat hal-hal yang baru. Salah satu yang membuat saya terkejut adalah perihal memberikan siswa konsekuensi, yang ternyata sama dengan mengancam siswa. Semuanya saya dapat dari situs teachers.net. silahkan menikmati indikator-indikator berikut ini.

1. Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas

2. Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.

3. Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.

4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.

5. Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)

6. Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari

Ada dua hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak.

1. Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.

2. Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.

7 sifat pemimpin yang baik di sekolah

stilah pemimpin dalam bidang pendidikan atau educational leadership mengacu pada pemimpin di sekolah yang berusaha memadukan tiga kepentingan yang utama di sekolah. Kepentingan tersebut adalah kepentingan guru, kepentingan siswa dan kepentingan orang tua. Dimasa sekarang sekolah menghadapi tantangan yang sangat berat dikarenakan sekolah diharapkan bisa menjadi jawaban dari berubahnya jaman dan banyaknya sumber pengetahuan diluar sekolah.

Seth Godin seorang ahli perubahan dan kepemimpinan menyarankan 7 sifat yang membuat pemimpin mampu menghadapi tantangan di abad 21, saya akan coba mencari hubungan dengan dunia pendidikan.

  1. Challenge – Tantangan. Pemimpin yang baik memberi tantangan kepada komunitas sekolahnya. Tantangan disini tidak selalu dalam pengertian prestasi yang terukur, lulus UAN 100 persen misalnya. Walaupun hal tersebut juga bukan hal yang jelek tetapi mengapa tidak dicoba hal-hal lain. Sekolah bebas bullying, sekolah yang melek TIK atau mengefektifkan pembelajaran di kelas dengan perencanaan yang matang misalnya . Banyak hal yang bisa dijadikan tantangan, dan hanya pemimpin sekolah yang baik yang bisa membuat tantangan menjadi kenyataan. Terkadang terlalu tinggi menggantung standar juga akan berakibat tidak baik, hitunglah sumber daya dan keunggulan apa yang sekolah punyai. Baru kemudian tantangan atau target bisa dimulai dari sana. Ingat sukses yang besar dimulai dari sukses yang kecil-kecil
  2. Culture – Budaya. Pemimpin yang baik secara sadar menciptakan budaya. Budaya tepat waktu, bisa dimulai dari hal yang kecil, tidak terlambat saat memulai rapat, atau masuk sekolah. Budaya menghormati orang lain bisa dimulai dengan mematikan HP saat rapat sedang berlangsung dan tidak berbicara satu sama lain saat ada orang yang berbicara didepan podium. Hal-hal yang sederhana namun diterapkan secara terus menerus bisa dengan mudah menjadi budaya positip di sekolah. Jangan lupa memberi selamat atau reward kepada guru atau siswa yang mempraktekan kebiasaan yang baik.
  3. Curiosity – Ingin tahu. Pemimpin sekolah yang baik selalu ingin tahu. Selalu bertanya untuk segala kemungkinan yang terbaik. Jika ada guru atau siswa mengeluhkan mnegenai sesuatu hal, ia akan mengajarkan atau memberi contoh untuk mencari tahu apa yang mungkin bisa dilakukan sekaligus bersama-sama mencari jalan keluar. Memang sudah menjadi tugas pemimpin untuk menangani keluhan dari semua pihak, guru, siswa dan orang tua. Namun pemimpin yang baik bisa mendengarkan, memberi masukan sekaligus menyelesaikan dengan bijaksana.
  4. Charisma - Berkarisma. Karisma bukan hal yang wajib bagi pemimpin. Orang seperti Soekarno memang berkarisma, buat kita yang orang biasa, berharap mempunyai karisma seperti beliau nampaknya hanya mimpi. Semua pemimpin sebenarnya dengan gampang bisa mempunyai karisma, tergantung caranya memimpin.
  5. Communicate – Berkomunikasi. Pemimpin yang baik berbicara ‘dengan’ kita bukan berbicara’kepada’ kita. Merupakan sebuah hal yang berbeda bukan? Kedua istilah tersebut kelihatan sederhana. Namun terasa sekali bedanya. Ketika seorang pemimpinyang baik berbicara dengan staf, guru atau orang tua saat yang sama pemimpin menjadi pendengar yang baik, mau mengerti dan menempatkan harga diri rasa kepercayaan serta itikad baik terhadap orang lain diatas segalanya.
  6. Connect – Terhubung. Pemimpin disekolah yang baik selalu terkoneksi dengan semua orang. Dengan cepat orang lain bisa tahu apa yang sedang dikerjakan olehnya. Caranya bisa bermacam-macam dari berbicara didepan rapat mengenai apa yang dilakukannya, menulis di bulletin sekolah sampai menulis blog di internet. Tidak usah dengan artikel yang panjang dengan dot points saja sudah cukup untuk memberi kabar pada semua orang yang terlibat dengan pekerjaannya sebagai pemimpin.
  7. Commit – komitmen. Pemimpin yang baik menaruh komitmen yang tinggi terhadap kesejahteraan dan perasaan orang-orang disekitarnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi pemimpin yang baik tahu apa masalah mandasar yang semua orang inginkan dan rasakan. Juga tidak melulu masalah penggajian. Sebab kadang persoalan gaji di sekolah swasta tergantung dengan kemampuan sekolah dan banyak nya siswa. Masih banyak cara mensejahterakan bawahan, persoalannya pemimpin yang baik tahu cara mencari benefit atau keuntungan lain yang bisa didapat oleh bawahannya dengan bekerja di sekolah yang ia pimpin.

10 ciri guru profesional

1. Selalu punya energi untuk siswanya
Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.

6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

7. Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.

8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran
Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.

10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

Disarikan dari situs Apple for the teacher

Salah satu metode belajar untuk SD di Singapura pada kelas Gemuk (1 kelas ada 40siswa)

Artikel ini saya dapatkan dari pengalaman Bapak Munif Chatib, beliau melihat dan mengamati bagaimana pembelajaran di SD kelas 5. Beliau sempat kaget karena mengetahui ada banyak kelas gemuk (40siswa) di Singapura. Beliaupun merasa akan melihat suatu pembelajaran yang membosankan, sangat kacau dan melihat siswa2nya seperti robot di Kelas. Namun ketika mulai melihat kegiatan belajar mengajarnya beliau terkesan, rasa bosan dan perasaan akan melihat pembelajaran yang kacau pun sirna. Berikut ini adalah pengalamannya:


Seorang guru masuk kelas, memberi pengantar selama 10 menit. Pengantar itu ternyata adalah problem matematika yang harus diselesaikan. Guru tersebut memberitahukan cara menyelesaikannya. Saya memperhatikan betul, ternyata guru mengajarkan ada dua cara menyelesaikan masalah itu. Problem matematika yang saya maksud tentang variabel. Saya melihat jam tangan, sudah 15 menit berlangsung, dan guru memberi kesempatan siswanya bertanya. Ada dua orang siswa yang bertanya, dengan cepat dijawab oleh sang guru, sampai-sampai siswa tersebut mengangung-angguk pasti. Saya masih menunggu, apa yang akan dilakukan guru ini kemudian.

Nah ternyata kuncinya adalah pada menit-menit berikutnya, guru langsung membagi siswa menjadi 8 kelompok, masing-masing 5 siswa. Lalu ada 3 kelompok diberikan lembaran soal dengan kode A, 3 kelompok berikutnya dengan kode B, sedangkan 2 kelompok sisanya diberikan lembaran soal C. Kemudian guru tersebut menjelaskan, bahwa 3 kelompok yang mendapat lembaran A diminta menyelesaikan problem dengan solusi A, 3 kelompok yang lain menyelesaikan dengan solusi B dan yang luar biasa, 2 kelompok sisa diminta berpikir untuk menyelesaikan problem dengan solusi yang lain, maksudnya bukan A atau B.

Aba- aba diberikan oleh guru dengan memberikan informasi bahwa soal harus selesai dalam waktu 15 menit sambil menunjukkan jarum jam di belakang kelas. Siswa langsung membentuk kelompok dan mulailah kelas ramai dengan suara-suara siswa berdiskusi.
Saya diperbolehkan menghampiri setiap kelompok dan saya sempat lihat soal yang diberikan guru, ternyata hanya dua soal. Yang menarik, saya melihat terdapat kebingungan pada dua kelompok terakhir yang menerima lembaran soal C. Mereka tampaknya kesulitan. Sesekali menghampiri guru dan bertanya. Saya melihat sang guru hanya berkeliling memperhatikan masing-masing kelompok, sambil sekali-kali mengingatkan batasan waktu.

Begitu waktunya habis, meminta setiap kelompok berhenti berdiskusi, dan seperti yang saya duga, waktunya setiap kelompok presentasi. Tiga kelompok pertama (A) presentasi dalam waktu 5 menit, demikian juga tiga kelompok kedua(B) dan yang paling mengasyikkan adalah kelompok C yang maju namun tidak bisa mempresentasikan apa-apa, sebab mereka belum menemukan solusi selain A dan B.
Ternyata intinya di sini, guru mengambil peran lagi, bagaimana memberikan cara berpikir untuk menemukan solusi yang ketiga. Dan akhirnya mereka berhasil.

Setelah break sebentar, saya langsung mendatangi sang guru, dan bertanya tentang proses belajar selama 40 menit yang barusan berlangsung, tanpa kesulitan guru tersebut mengajar pada kelas yang gemuk. Sambil tersenyum guru tersebut menjawab, ada tiga kunci.

Kunci pertama adalah GROUPING. Bagilah para siswa menjadi group atau kelompok. Setiap saya mengajar, kata guru tersebut, pasti saya bagi menjadi beberapa kelompok. Sebelumnya saya memebrikan semacam prolog atau scene setting tentang materi. Untuk matematika, prolog itu berupa masalah riel sehari-hari dan bagaimana menyelesaikannya. Dalam group mereka mengerjakan kasus lain yang solusinya serupa. Namun selalu saya tantang siswa untuk menemukan solusi yang lain. Biasanya kelompok inilah yang akan menjadi kunci dalam diskusi nanti.

Kunci kedua adalah TIME FRAME. Setiap prosedur yang dilakukan siswa harus dibatasi waktu. Sebab itu saya tidak henti-hentinya mengingatkan batasan waktu kepada kelompok. Time Frame ini sangat penting agar guru dapat mengkontrol seluruh waktu yang ada untuk aktivitas semua kelompok. Kata guru tersebut Time Frame ini bermacam-macam modelnya, saat ini dengan jarum jam. Biasanya saya memakai timer, peluit atau musik.

Kunci ketiga adalah PRESENTATION. Kelompok yang sudah bekerja harus mempresentasikan hasil pekerjaannya. Biasanya kelompok yang mampu menyelesaikan problem matematikanya adalah kelompok yang sudah diberi contoh langkah-langkah pengerjaannya. Presentasi yang menarik biasanya pada kelompok yang diberikan tingkat kesulitan dengan mencari solusi yang lain untuk menyelesaikan tugasnya. Pada bagian inilah yang biasanya seru dan menarik. Mereka diajak untuk mencari sendiri jalan keluar dari sebiha permasalahan matematika.

Saya hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat kepada guru tersebut atas demontrasi mengajarnya yang mengesankan. Meskipun awalnya saya pesimis mengingat kelas yang gemuk, namun saya melihat ruh management class yang baik sekali. GROUPING, TIME FRAME, dan PRESENTATION.


Tulisan ini saya tulis karena menurut saya akan sangat bermanfaat bagi saya nantinya. dan semoga bisa bermanfaat bagi kalian semua. terimakasih.

Cara Hafal Anak Kelas 3 Sd

Sejalan dengan perkembangan fisik, pada seorang anak juga mengalami perkembangan kognisi (kemampuan berpikir). Bisa jadi anaknya masih dalam tahapan berpikir konkrit praktis dimana segala informasi/data2 yang masuk haruslah data2 yang konkrit, nyata dan bisa diterima oleh panca indranya. jadi kalau diminta untuk hafal buta berdasarkan kalimat2 dari buku, kalimat2/informasi yang bersifat abstrak (anaknya belum bisa memiliki kemampuan membayangkan), tentunya menjadi sulit). Kalau saya boleh usul, ketika belajar (belajar apa saja), tolong bantu dia dengan mempersiapkan alat peraga, jadi si anak punya bukti/data otentik tentang hal2 yang harus dikuasainya dan tentunya informasi yang diperoleh dengan banyak bantuan dari alat2 peraga, tentunya akan lebih mudah diingat oleh si anak.

Misalnya belajar tentang klorophyl (tujuannya mau menjelaskan zat hijau daun), ambil saja daun2 yang berwarna hijau dan yang tidak punya warna hijau untuk kasih tahu bahwa daun yang berwarna hijau itu punya kloropyhl sedangkan yang kuning2 (misalnya), tidak punya kloropyhl. Kalau boleh tahu belajar IPAnya tentang apa misalnya? mungkin saya bisa bantu.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengajarkan anak:
1. pengalamanku mengajarkan anak memang tidak cukup dengan mengandalkan buku2 dari sekolah, biasanya saya belikan buku tambahan untuk membantu saya mengajarkan si anak, buku2 tentang hewan atau tanaman2, dll.

2. perbedaan jenis kelamin, ada sedikit pengaruh terhadap kemampuan menghafal, biasanya, anak laki2 kurang suka terhadap materi2 yang menghafal dibandingkan anak2 perempuan, mereka lebih senang matematika, ilmu bumi, dll.

3. perkembangan kognisi anak, anak2 pada tahapan awal usia sekolah, masih memerlukan bantuan untuk mencerna informasi yang masuk; dalam artian, semakin konkrit informasi itu, maka semakin mudah dimengerti. misalnya: materi belajar anak usia praskolah adalah beda dengan usia sekolah, usia prasekolah, materinya penuh dengan warna dan besar2 penyajiannya, materi dalam bentuk gambar2 yang menarik dan soalnya sedikit2, sedangkan usia sekolah, materi sudah mulai disajikan dalam bentuk kalimat atau bahasa, mulai berkurang gambar2nya dan warna2nya juga tidak sebanyak usia praskolah.

Sebetulnya, usia sekolah itu sudah mulai memasuki tahapan perkembangan kognisi yang disebut sebagai abstrak conceptual yang ditandai bahwa anak mulai bisa membayangkan sesuatu, misalnya ketika bicara tentang alam semesta, dll.

Boleh tahu usia putra/putrinya ? Usia 3-7 th itu masuk ke dalam tahapan konkrit operasional, segala2 informasi harus konrit, real dan jelas, contoh: belajar tentang warna, bentuk (bulat, segitiga, kotak, dll), disajikan dengan contoh/alat peraga dan eye catching. Mulai usia 8th ke atas itu sudah masuk ke dalam tahapan perkembangan abstrak conceptual, misalnya soal2 dalam bentuk bahasa meskipun sebetulnya kalau disederhanakan bisa saja hanya perkalian 3x4 tapi sudah diperkenalkan dengan konsep bahasa, dll.

Berdasarkan pengalaman saya membuat materi pelajaran untuk anak2 SD, sebetulnya tingkat kesulitan dari setiap tingkatan kelas itu (materi kelas 1 VS materi kelas 2, dst.) masih dalam rentang tahapan perkembangan kognisi abstrak conceptual, hanya saja, quantity materinya yang ditambah, jadi pengertiannya, materi hafalan di kelas 2 juga ada dan kalau bisa naik ke kelas 3, coba ditelusuri lagi. bagaimana dulu metode pembelajaran menghafal putra/putri di kelas 2, apakah dengan proses drilling/dengan banyak2 contoh2 atau ada alat peraga.

Yang critical itu sebetulnya adalah pada bagaimana memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk anak, memang nantinya jadi si ibu yang harus kreatip untuk cari2 cara buat anak belajar dengan enak. Dulu sih ada metode yang namanya jembatan keledai seperti contoh untuk belajar not:
do - sado
re - sore
mi - mie bakso
fa - tifa, dst

kalau saya lihat, kasusnya putra/putri ibu lebih kepada bagaimana menimbulkan minat untuk menghafal bukan tidak bisa menghafal. Cara menimbulkan minat bisa dengan banyak hal:
1. ajak langsung berhubungan dengan materi pembelajarannya, misalnya: ajak jalan2
2. dengan bercerita (ibu menceritakan dan akhirnya ibunya jadi lebih pintar)
3. kalau pergi jalan2 sekeluarga, sekalian kasih tahu hal2 baru yang dilihatnya jadi, sambil jalan2 juga bisa belajar sekalian, belajar informal.
4. cari materi tambahan di toko buku, dengan gambar2 yang lebih 'eye catching'

Kalau boleh usul, jangan tekankan pada angka tetapi concern dengan pada bagaimana anak mengerti/memahami materi tersebut. Angka itu kadang2 bisa mengelabui kita, tapi pemahaman anak adalah mutlak, kemanapun dia pergi kalau dia memiliki pemahaman yang benar (red: anak mengerti dengan baik) pasti akan aman untuk dirinya sendiri dan orang tuanya. Tugas kita sebagai orang tualah yang membantu anak2 untuk memiliki pemahaman yang benar, dan tugas ini kritikal bu ! [Rm]

Waduh, anak kelas 3 sudah disuruh menghafal segitu banyaknya? Tidak heran kalau anakmu jadi putus asa begitu. Anakku juga sudah kelas 3 tapi karena dia autis aku memang sengaja cari sekolah yang tidak mengikuti kurikulum diknas, jadi pelajarannya tidak 'aneh-aneh'. Tapi apa iya, anak kelas 3 sudah harus dijejali hapalan yang seabrek-abrek seperti itu ? Kalau IPA okelah, tapi PLKJ atau apalah itu gunanya buat apa?

Karena sepertinya mau tidak mau anakmu harus tetap menghafal, untuk PLKJ lebih baik waktu weekend kamu ajak keliling/wisata langsung ke tempat yang harus dihafalkan anakmu. Kalau IPA juga bantu saja dengan memberi tahu langsung /memperlihatkan seperti apa sih stek, tunas, dll, jadi dia bisa kebayang bentuknya, baru sambil menghafal bahasa latinnya. Aku yakin kalau si anak melihat wujudnya akan lebih menarik dan memudahkan dia untuk mengingatnya. Sebenarnya sih itu tugas gurunya, tapi kalau di sekolah guru tidak bisa melakukannya ya sudah, demi anak sendiri terpaksa kamu yang harus bantu mengajarkan. Mudah-mudahan membantu ya. [Dm]

Kalau keponakanku dulu (anakku belum pada sekolah) diajak cerita sama ibunya, memang kebetulan kakakku rajin jadi dia baca dulu pelajaran sekolah anaknya trus dia cerita dengan penuh gaya sambil main-main tentunya, bisa sambil menggambar (yang digambar juga sesuai dengan yang diterangkan), atau sambil bermain peran, dsb, tapi herannya begitu besoknya ditanya -tanya sianak bisa jawab. Benar-benar tidak habis pikir aku, buat apa disuruh menghafalkan isinya museum? Kasian sekali anak-anak otaknya dijejalkan hal-hal yang tidak penting-penting amat. Kalau aku ditanya isinya apa saja, aku jawab kursi, meja, dll. Tapi benar buat anak-anak sebaiknya sistem mengajarnya adalah langsung melihat atau juga praktek, aku sudah merasakan manfaatnya di anak-anakku ketimbang cuma disuruh menghayal habis-habisan tanpa pernah melihat bentuknya. [En]

Penerapan metode belajar aktif dalam pembelajaran berbasis proyek.

Coba anda bayangkan situasi kelas dibawah ini….

Siswa di kelas lima sedang belajar mengenai konsep mesin yang sederhana, mereka belajar konsep kekuatan, gerak dan bekerja mengaanalisa sebuah mesin yang sederhana. Dari mesin yang rumit mereka memepelajari kaidah mesin yang paling prinsip. Siswa mengoleksi, mengatur, menghadirkan kembali data-data menggunakan program excel. Saat merancang mesin sederhana mereka berperan sebagai perancang sekaligus mempegunakan prinsip perencanaan, perakitan, uji coba sebelum mesin sederhana buatan mereka diluncurkan didepan teman-teman kelas mereka.

Apabila ada pertanyaan mengenai ‘metode apa yang paling efektif untuk mengajar?’ jawabannya bergantung pada tujuan pembelajaran, isi pembelajaran, dan guru yang akan menggunakannya. Tapi ada jawaban lain yang lebih baik dari itu semua yaitu ‘siswa mengajarkan siswa lainnya’ dikutip dari Wilbert J. McKeachie, pengarang buku Teaching tips: Strategies, research and theory for college and university teachers, Houghton-Mifflin (1998)

Illustrasi diatas serta kutipan dari buku merupakan gambaran dari dua metode mengenai pembelajaran yang pertama adalah ilustrasi dari pembelajaran dengan berbasis proyek sedangkan yang kedua adalah gambaran yang sederhana dan singkat mengenai pembelajaran aktif.

Pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran aktif,kedua-duanya saling berkaitan. Pembelajaran aktif merupakan ruh dari pembelajaran berbasis proyek.

Istilah yang sekarang ada dan memiliki esensi yang sama dengan belajar aktif adalah PAKEM atau pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan. Istilah ini ada dalam kerangkan peningkatan mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah (MBS). PAKEM adalah dua pilar dari empat pilar MBS. Dua pilar lainnya adalah manajemen yang transparan, dan keterlibatan masyarakat pendidikan.

Sedangkan pembelajaran berbasis proyek adalah proyek perseorangan atau grup dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa

Menggunakan: kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, integrated studies, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dll

Dua metode diatas mempertimbangkan aspek

a. Gaya belajar siswa

b. Taksonomi pembelajaran

c. Kecerdasan majemuk

Berikut ini adalah gambaran mengenai jalannya pembelajaran dengan konsep mesin sederhana, lanjutan dari illustrasi diatas.

VAK Visual Mencari gambar mesin sederhana dari Koran atau majalah dan film
Auditory Mendengar dan melihat penjelasan dari pekerja konstruksi yang menjelaskan bagaimana mereka menggunakan mesin sederhana saat bekerja.
Kinesthetic Membuat mesin sederhana yang terbuat dari tanah liat.
Otak kanan dan Otak kiri Otak kiri Mengikuti langkah demi langkah petunjuk membuat mesin sederhana.
Otak kanan Berdiskusi mengenai peran mesin sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari
Kecerdasan majemuk Logis matematis Membuat mesin sederhana dari mesin yang rumit
bahasa Membuat karangan atau pidato menjelaskan mengenai pentingnya mesin sederhana dalam kehidupan .
Spasial Membuat presentasi menunjukkan perbedaan penggunaan mesin sederhana.
Musikal Membuat lagu tentang mesin sederhana.
Tubuh dan kinestetis Menggunakan benda-benda sederhana untuk menciptakan mesin sederhana.
Antar pribadi Bekerja dengan kelompok membuat video tentang mesin sederhana untuk siswa TK.
Dalam pribadi Membuat buku catatan harian mengenai pembelajaran.
alam Menemukan contoh dari mesin sederhana yang ada di alam,

Tantangan Dunia Pendidikan Kita

Dalam penyusunan RAPBN 2010 sementara, Departemen Pendidikan Nasional akan memperoleh porsi anggaran paling besar, dibandingkan Departemen lain. Sesuai kewajiban pemerintah untuk memprioritaskan anggaran pendidikan, hal tersebut sudah semestinya menjadi suatu kewajaran.

Pembiayaan serta alokasi dana pendidikan hanyalah salah satu dari sekian banyak persoalaan yang harus dihadapi menteri pendidikan yang akan datang. Baik secara fungsional maupun struktural, pendidikan kita memang perlu mendapatkan perhatian utama demi kemajuan dan kesejahteraan ke depan.

Tantangan pertama bagi sang menteri beserta Depdiknas ialah untuk mempertanggungjawabkan dana APBN tersebut beserta janjinya dengan sekolah gratis. Sebagai suatu program yang sudah dicanangkan dan digembar-gemborkan, masyarakat tentu menanti pertanggung jawabannya.
Namun, persoalan lain yang lebih mendasar menanti untuk diselesaikan satu per satu. Persoalan dunia pendidikan dengan masalah lapangan kerja adalah salah satunya. SMK sebagai solusi jangka pendek (atau mungkin juga menengah) harus dikembangkan lagi dan mempertahankan prestasi yang telah diraih dalam beberapa tahun terakhir.

Tetapi, di sisi lain perlu ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah institusi yang berfungsi untuk mencetak tenaga kerja semata. Logika link and match yang dianut adalah salah dan terlampau pragmatis. Dampaknya, dunia pendidikan kita terbawa arus industrialisasi mulai dari komersialisasi lembaga hingga pada cara berfikir positivistik dengan mematok nilai ujian sebagai indikator keberhasilan.

Sudah saatnya ditegaskan kembali bahwa UN tidak bisa menjadi alat penentu kelulusan siswa, dengan alasan apapun. Keteguhan pemerintah pada pelaksanaan UN hanya semakin memperjelas cara pandang terhadap pendidikan sebagai sebuah industri, karena ujian nasional tidak ubahnya sebuah ISO pada lembaga formal untuk mengukur tingkat keberhasilan kinerja.
Janganlah heran jika dunia pendidikan kita semakin kehilangan rohnya, dan hanya dibungkus oleh daging berupa lembaga-lembaga pendidikan yang mencoba untuk menarik keuntungan dari kebutuhan masyarakat. Dibukanya dunia pendidikan bagi arus modal lokal dan asing serta UU BHP secara terang-terangan memperlihatkan pengurangan peran pemerintah dalam dunia pendidikan.

Dialog mengenai BHP pun sudah dihidupkan dimana-mana, dengan sebuah konsensus yang berisi penolakan. Tapi nyatanya, seruan masyarakat tersebut ditanggapi pemerintah dengan menutup kuping.

Komersialisasi pendidikan yang sudah, dan kemungkinan besar akan justru semakin jelas terjadi, bukan hanya merugikan mereka yang secara finansial tertutup peluangnya untuk menikmati pendidikan. Dalam jangka panjang, negara dan bangsa inilah yang akan merasakan akibatnya. Sumber daya manusia yang berkualitas hanya akan ditemukan di kelompok atau kelas masyarakat yang latar belakangnya memang memungkinkan secara materiil.

Bahaya lain dari industrialisasi ialah pragmatisme dalam cara berfikir dan bertindak. Dengan cara pandang bahwa pendidikan hanya dilihat sebagai investasi, maka nilai –nilai yang ditanamkan di dalam dunia pendidikan akan terbatas pada nilai-nilai yang berguna bagi dunia usaha dan bukan untuk pengembangan ilmu serta pengetahuan itu sendiri.

Padahal, pendidikan yang menurut H.A.R. Tilaar pada hakikatnya berperan untuk memerdekakan dan mengembangkan potensi anak manusia, semakin terpinggirkan oleh peran media massa dan juga arus globalisasi. Untuk bisa kembali kepada hakikat pendidikan tersebut, maka komponen utama pendidikan, yakni guru itu sendiri, juga harus dijauhkan dari cara berfikir pragmatis yang menjebak guru dalam perangkap prestasi. Cara belajar yang dialogis harus dikembangkan untuk mengajak siswa berfikir secara kritis. Untuk itu, guru tidak boleh lagi memasuki ruang kelas dengan perut kosong. Kesejahteraan guru sudah semestinya adalah suatu kewajaran.

Siapapun menteri pendidikan berikutnya, ia memiliki tugas mulia untuk mengembalikan dunia pendidikan kita untuk kembali pada khitahnya yakni mengembangkan fikiran dan membangun potensi diri manusia Indonesia. Tetapi pada saat yang bersamaan, menteri berikutnya juga harus tegar menghadapi kenyataan bahwa pendidikan akan selalu dilihat sebagai tangga menuju dunia kerja.

foto:/katanakirei.files.wordpress.com

MENYINGKAPI PELAKSANAAN “KTSP”

Oleh : ISRONI

Sejak ditetapkannya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang menggantikan kurikulum sebelumnya, yaitu KBK yang pelaksanaannya belum memberikan hasil yang optimal sesuai yang diharapkan oleh pemerintah. Dengan munculnya KTSP yang konon katanya kurikulum tersebut dapat mempermudah para guru dalam menentukan tujuan akhir dari pembelajaran tersebut dan dapat digunakan atau dilaksanakan dimana saja, baik itu di kota maupun di daerah-daerah terpencil. Tapi anehnya semenjak ditetapkanya malah sebaliknya mengundang banyak pertanyaan dimana-mana, baik dikalanagan pemerintah maupun oleh kalangan para guru sebagai pelaksanan kurikulum tersebut sangat resah dan bingung dalam melaksanaannya. Akan tetapi pemerintah merespon pertanyan tersebut dari para guru agar tenang dan jangan resah dalam melaksanakannya dilapangan. Karena kurikulum tersebut hanya modipikasi dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Dalam hal ini KTSP juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/ sekolah, karakteristik sekolah/darah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik setempat. Dengan diberlakukannya KTSP yang katanya hanya untuk sebagai penyempurna dari kurikulum sebelumnya dan untuk mengembangkan kualitas pendidikan kea rah yang lebih baik. Akankah hal itu dapat terwuju?. Untuk menjawab hal tersebut mari kita lihat pakta dilapangan tentang pelaksanaannya, sebagian besar para guru menggap perubahan tersebut bukan sebagai suatu langkah dalam meningkat kualitas pendidikan. Karena sebagaian besar guru kurang mengerti dalam penyusunan dan pelaksanannya, untuk mengatasi hal tersebut sangat diharapkan peran dari kepada pemerintah dan para gurudalam meningkatkan kualitas pendidikan yang diharapkan dari kurikulum tersebu.

Ada dua hal yang harus di perhatikan \pemerintah dan para guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang diharapkan.

Pertama, bagaimana peran guru dalam menyikapi diberlakukannya KTSP, karena kalau respon atau tanggapan guru terhadap diberlakukannya KTSP itu bukan sebagai perubahan, akan tetapi senbagai masalah dan penghambat dalam pelaksanaannya dilapangan, hal ini tidaklah mungkin akan terwujud kualitas pendidikan yang diharapkan.

Kedua, Bagi guru, kepala sekolah dan dewan pengawas dengan adanya KTSP ini agar menjadi iklim pembelajaran yang kondusip bagi terciptanya suasana yang aman , nyaman dan tertib, sehuingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. Untuk meningkatkan kualitas peserta didik banyak kebijakan yang harus di perhatikan oleh elemen atau lembaga-lembaga yang ada di daerah atau sekolah tersebut dalam melaksanakan otonomi sekolah an kepemimpinan sekolah dan partisipasi masyarakat serta kemandirian guru dalam menyikapi perkembangan pendidikan pada zaman sekarang ini. Oleh karena bukan suatu yang mustahil tejadi kalau tujuan KTSP terseb dapat terwujud, semua ini tergantung kepada pribadi kita dan sekolah dalam menyikapinya.

Konsep Pendidikan Anak

Seorang ibu haruslah memiliki wawasan dan keilmuan yang tinggi. Ibu harus terus memperkaya dirinya untuk memahami perkembangan kondisi anaknya (baik aspek fisik, pikir dan nalurinya). Ia juga harus mengetahui konsep pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya dan program-program yang wajib ia jalankan untuk memenuhi seluruh hak-hak anak-anaknya.

Ada beberapa konsep pendidikan yang perlu dipahami oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya sesuai dengan tahapan perkembangannya, antara lain :

a. Bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlakuan atau metode pendekatan yang dipakai untuk masing-masing anak dalam proses pembelajarannya bisa jadi berbeda.

b. Anak akan mengalami perubahan dengan pendidikan yang diberikan dan perubahan yang terjadi pada masing-masing anak tidak sama dan instan tetapi bertahap, maka di sinilah diperlukan kesabaran dan tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan anak.

c. Anak usia dini merupakan masa emas, yang akan dengan cepat dapat menyerap informasi. Di sinilah diperlukan memasukkan pengajaran yang Islami sejak dini tanpa anak merasa terbebani (bermain sambil belajar). Dan kemudian berupaya mengkaitkan antara informasi yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain merangsang proses berfikirnya. Semua aspek perkembangan saling berhubungan, sehingga ibu harus memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, baik fisik, mental, maupun spiritualnya.

Mencari konsep Pendidikan Nasional yang tepat

Lihat ; SISTEM PENDIDIKAN NASIONAL DI INDONESIA

Sistem Pendidikan Nasional di Indonesia bertujuan mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia lndonesia seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi pekerti luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri, serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan.
Sistem pendidikan juga harus menumbuhkan jiwa patriotik dan mempertebal rasa cinta tanah air, meningkatkan semangat kebangsaan dan kesetiakawanan sosial, dan sikap menghargai jasa para pahlawan serta berkeinginan untuk maju. Iklim belajar mengajar yang dapat menumbuhkan rasa percaya diri sendiri dan budaya belajar di kalangan masyarakat terus dikembangkan agar tumbuh sikap dan perilaku yang kreatif, inovatif, dan berorientasi ke masa depan.
Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Menurut Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No. 2 tahun 1989, sistem pendidikan nasional berfungsi untuk mengembangkan kemampuan serta meningkatkan mutu kehidupan dan martabat manusia Indonesia dalam rangka upaya mewujudkan tujuan nasional. Berdasarkan pada Undang-undang Pendidikan tersebut, sistem pendidikan nasional dibedakan menjadi satuan pendidikan, jalur pendidikan, jenis pendidikan, dan jenjang pendidikan.
Satuan Pendidikan
Satuan pendidikan (sekolah atau luar sekolah) menyelenggarakan kegiatan belajar-mengajar yang dilaksanakan di sekolah atau di luar sekolah.
Jalur Pendidikan
Penyelenggaraan pendidikan dilaksanakan melalui dua jalur yaitu jalur pendidikan sekolah dan jalur pendidikan luar sekolah. Jalur pendidikan sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di sekolah melalui kegiatan belajar mengajar secara berjenjang dan berkesinambungan. Jalur pendidikan luar sekolah merupakan pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah melalui kegiatan belajar-mengajar yang tidak harus berjenjang dan berkesinambungan. Pendidikan keluarga merupakan bagian dari jalur pendidikan luar sekolah yang diselenggarakan dalam keluarga yang memberikan keyakinan agama, nilai budaya, nilai moral dan keterampilan.
Jenis Pendidikan
Sistem pendidikan nasional terdiri dari tujuh jenis pendidikan yaitu pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan, pendidikan keagamaan, pendidikan akademik, dan pendidikan profesional. Pendidikan umum merupakan pendidikan yang mengutamakan perluasan pengetahuan dan peningkatan keterampilan peserta didik dengan pengkhususan yang diwujudkan pada tingkat-tingkat akhir masa pendidikan. Pendidikan kejuruan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat bekerja dalam bidang tertentu. Pendidikan luar biasa merupakan pendidikan yang khusus diselenggarakan untuk peserta didik yang menyandang kelainan fisik dan/atau mental. Pendidikan kedinasan merupakan pendidikan yang berusaha meningkatkan kemampuan dalam pelaksanaan tugas kedinasan untuk pegawai atau calon pegawai suatu Departemen atau Lembaga Pemerintah Nondepartemen. Pendidikan keagamaan merupakan pendidikan yang mempersiapkan peserta didik untuk dapat menjalankan peranan yang menuntut penguasaan pengetahuan khusus tentang ajaran agama yang bersangkutan. Pendidikan akademik merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada penguasaan ilmu pengetahuan. Pendidikan profesional merupakan pendidikan yang diarahkan terutama pada kesiapan penerapan keahlian tertentu.
Jenjang Pendidikan
Jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan sekolah terdiri atas: Pendidikan Dasar; Pendidikan Menengah; dan Pendidikan Tinggi. Selain jenjang pendidikan di atas, diselenggarakan pendidikan prasekolah. Jenjang pendidikan yang termasuk jalur pendidikan luar sekolah adalah pendidikan yang diselenggarakan di luar sekolah baik di lembaga pemerintah, nonpemerintah, maupun sektor swasta dan masyarakat.
Pendidikan Dasar merupakan pendidikan sembilan tahun terdiri atas program pendidikan enam tahun di sekolah dasar dan program pendidikan tiga tahun di sekolah lanjutan tingkat pertama. Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama terdiri dari dua jenis sekolah yang berbeda yaitu sekolah umum dan sekolah keterampilan. Pendidikan Dasar diselenggarakan untuk mengembangkan sikap dan kemampuan serta memberikan pengetahuan dan keterampilan dasar yang diperlukan untuk hidup dalam masyarakat serta mempersiapkan peserta didik yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan menengah. Pendidikan Dasar merupakan pendidikan wajib belajar yang memberikan para siswa dengan pengetahuan dan keterampilan.
Sebagai tambahan pada pendidikan dasar, terdapat Madrasah Ibtidaiyah, yang setingkat dengan Sekolah Dasar dan Madrasah Tsanawiyah yang setingkat dengan sekolah Lanjutan Tingkat Pertama umum yang berada di bawah pengelolaan Departemen Agama.
Pendidikan Menengah disiapkan untuk lulusan pendidikan dasar. Pendidikan menengah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan kejuruan, pendidikan luar biasa, pendidikan kedinasan dan pendidikan keagamaan. Pendidikan menengah diselenggarakan untuk melanjutkan dan meluaskan pendidikan dasar serta menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan lebih lanjut dalam dunia kerja atau pendidikan tinggi. Lama pendidikan tiga tahun untuk sekolah umum dan tiga atau empat tahun untuk sekolah kejuruan.
Sebagai tambahan pada sekolah menengah, terdapat Madrasah Aliyah yang setingkat dengan sekolah menengah umum yang berada dalam pengelolaan Departemen Agama.
Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan dari pendidikan menengah yang terdiri dari pendidikan akademik dan profesional. Pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan menengah yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian. Satuan pendidikan yang menyelenggarakan pendidikan tinggi disebut perguruan tinggi yang dapat berbentuk akademi, politeknik, sekolah tinggi, institut, atau universitas. Lama pendidikan tinggi tiga tahun untuk program diploma atau empat tahun untuk program sarjana. Sesudah tingkat sarjana dapat meneruskan ke program Pasca Sarjana selama dua tahun dan dapat meneruskan ke program Doktor tiga tahun kemudian.
Pendidikan prasekolah adalah pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani anak didik di luar dilingkungan keluarga sebelum memasuki pendidikan dasar, yang diselenggarakan di jalur pendidikan sekolah atau di jalur pendidikan luar sekolah. Pendidikan prasekolah antara lain meliputi pendidikan Taman Kanak-kanak, terdapat di jalur sekolah, dan Kelompok Bermain, serta Penitipan Anak di jalur luar sekolah. Taman Kanak-kanak diperuntukan anak usia 5 dan 6 tahun untuk satu atau dua tahun pendidikan, sementara kelompok bermain atau penitipan anak diperuntukan anak paling sedikit berusia tiga tahun.
Jenis pendidikan luar sekolah terdiri atas pendidikan umum, pendidikan keagamaan, pendidikan jabatan kerja, pendidikan kedinasan, dan pendidikan kejuruan. Pendidikan luar sekolah dapat meliputi kursus-kursus, kelompok belajar seperti Paket A, Paket B, dan Kejar Usaha dan kegiatan lainnya seperti magang.

Commentku :

1. Apa sebenarnya esensi dari pendidikan!

2. Hakekat pendidikan secara universal adalah menanamkan nilai-nilai intelegensi, moral dan spiritual kepada anak didik sesuai dengan perkembangan mental dan jasmaninya.

3. Hakekat dari pembelajaran adalah mendidik peserta didik (murid, mahasiswa) menjadi manusia yang berdedikasi, kompeten, bermoral dan berwawasan. Lalu, apakah prioritas yang ingin dicapai saat ini sungguh seudah mengedepankan hal itu!?

4. Bagaimana hakekat dari pembelajaran mampu dicapai dalam kondisi persaingan global yang lebih menekankan pencapaian ilmu daripada kesejajaran antara kedewasaan secara emosional, intelegensi dan kepribadian!?

5. Bagaimana seharusnya pendidik (guru, dosen, orangtua dan mayarakat) membimbing dan mendidik anak didik agar mampu membentuk orientasi belajar (dan pencapaian ilmu) yang mengakomodir berbagai aspek (emosional, intelegensi dan kepribadian) tersebut?

Sebagai bahan referensi :

http://www.depdiknas.go.id/inlink.php?to=guru-dosen

http://www.depdiknas.go.id/inlink.php?to=uusisdiknas

Posting Update dari : www.dedimaestro.blogspot.com

Makalah PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP (PLH) KEPADA SISWA SEKOLAH SEBAGAI SALAH SATU ALTERNATIF DALAM UPAYA MENGATASI MASALAH LINGKUNGAN

Dalam dunia pendidikan, ada dua komponen utama yang ditonjolkan. Yang pertama adalah komponen hardware, komponen ini terutama menyangkut skill, misalnya kemampuan memakai komputer, kemampuan bahasa asing dan komponen kemampuan aritmatik. Sedangkan komponen yang kedua adalah software, terutama menyangkut masalah karakter, misalnya pantang menyerah, aktif mencari tahu dan antusiasme. (Nugroho,2007)

Pendidikan lingkungan merupakan salah satu faktor penting untuk meminimalisasi kerusakan lingkungan hidup dan merupakan sarana yang penting dalam menghasilkan Sumber daya manusia yang dapat melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pendidikan lingkungan dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan pemahaman dan kepedulian masyarakat dalam mencari pemecahan dan pencegahan timbulnya masalah lingkungan.

Menurut anonim (2007), Pendidikan lingkungan tidak akan merubah situasi dan kondisi lingkungan yang rusak menjadi baik dalam waktu yang singkat, melainkan membutuhkan waktu, proses, dan sumber daya. Atas dasar itulah Pendidikan lingkungan sedini mungkin perlu diupayakan agar dapat meminimalisasi kerusakan-kerusakan lingkungan.

Sebagai contoh dengan adanya bencana lingkungan hidup seperti bencana kebakaran hutan yang tak terkendali dari tahun ke tahun yang diakibatkan dari peran manusia pembangunan yang tidak berwawasan lingkungan. Dengan adanya pendidikan lingkungan merupakan upaya memperkenalkan siswa sekolah pada lingkungan sebenarnya yang sudah ada dalam program 5K, Keindahan, Kerapian, Kebersihan, Kepribadian dan Keamanan (Nugroho, 2007) .

Sjarkowi (2005) menyatakan bahwa untuk membangun kadar pemahaman yang seimbang tentang peran aktif manusia pembangunan ditengah lingkungan hidup, dapat berkembang secara optimal, khususnya terkait dengan cara sajian pelajaran dan suasana pembelajaran. Disinilah pentingnya pendidikan lingkungan dapat diterapkan untuk menyelesaikan permasalahan-permasalahan yang terjadi di lingkungan.

Download

Rabu, 10 Maret 2010

Mencari Akar Pangkat Tiga Sebuah Bilangan

Demikian kurang lebihnya satu pertanyaan yang diajukan oleh salah seorang komentator di blog ini. Mulanya akan langsung saya jawab pertanyaan tersebut di kolom komentar. Namun, saya berpikir bahwa pertanyaan tersebut akan lebih bermanfaat bila saya jawab dalam bentuk sebuah artikel. Karena itu, inilah jawaban yang (baru) bisa saya berikan!
Mencari nilai dari , secara geometris, berarti menentukan panjang rusuk sebuah kubus yang volumnya adalah satuan volum. Dengan menggunakan sedikit kemampuan menaksir (memperkirakan), maka dengan mudah kita dapatkan bahwa perkiraan panjang rusuk sebuah kubus–yang mempunyai volum 100 satuan volum– adalah 4, 64… satuan panjang. Sehingga, kita bisa menyimpulkan bahwa nilai dari kira-kira adalah 4, 64….
Cara lain untuk mempermudah dalam menentukan akar pangkat tiga sebuah bilangan adalah dengan menggunakan bantuan sifat-sifat logaritma–dipelajari di tingkat SMA (Sekolah Menengah Atas). Untuk kasus di atas, dalam menentukan adalah sebagai berikut.
Misalkan , maka dengan menggunakan sifat-sifat logaritma, kita bisa menulis seperti berikut ini:
log log
log log
log log
log
log
log
Dengan menggunakan tabel logaritma, anti logaritma dari log kira-kira adalah . Dengan demikian, .
Nah, untuk kasus yang lain dapat ditangani dengan cara yang serupa dengan memanfaatkan sifat-sifat logaritma. Dengan menggunakan cara serupa di atas (menggunakan sifat-sifat logaritma), kita pun dapat menentukan akar pangkat ke-n dari suatu bilangan.
Bagi Anda yang kesulitan mengikuti proses penentuan akar pangkat tiga–dengan menggunakan sifat-sifat logaritma, saya mohon maaf, karena salah satu caranya memang begitu yakni: menggunakan sifat-sifat logaritma yang dipelajari di tingkat SMA.
Bagi Anda yang memiliki cara lain, saya undang untuk menginformasikannya di kolom komentar. Terima kasih!
=======================================================
Ya sudah segitu saja ya jumpa kita kali ini. Mudah-mudahan artikel ini ada manfaatnya. Amin
Sampai jumpa di artikel mendatang!

Rahasia Rumus-rumus “Cepat” Matematika


Dulu, ketika saya masih baru menjadi mahasiswa baru tingkat pertama, saya berkenalan dengan salah seorang mahasiswa baru lainnya yang di kemudian hari menjadi teman baik saya. Ketika awal perkenalan, kami pun ngobrol kesana-kemari. Tanya sana-tanya sini. Jawab sana, jawab sini. Hingga ia pun akhirnya bercerita bahwaa nilai tes Matematika Dasar-nya, yaitu salah satu mata pelajaran yang diujikan di UMPTN*, adalah 100 alias benar semua.
Mendengar ceritanya tersebut, saya pun terkagum-kagum dibuatnya. Dalam pikiran saya, saya berkesimpulan “Wah ia pasti orang yang sangat pandai”. Rasa kagum saya mendorong rasa ingin tahu saya tentang pengetahuannya dalam matematika. Akhirnya, dalam masa awal perkenalan itu, saya ajak ia ngobrol tentang matematika yang sudah pernah kami pelajari ketika semasa SD sampai SMA dulu.
Dari obrolan tersebut, saya jadi tahu, ternyata ia benar-benar luas pengetahuan tentang matematika yang sudah dipelajarinya. Hingga akhirnya, mungkin untuk menunjukkan kepiawaiannya, ia mengajak saya adu cepat mengerjakan soal matematika.
Mendapat tantangan itu, sebenernya saya ngeper juga. Karena saya merasa tak sepandai dirinya. Namun, karena ini namanya juga bukan lomba dan bukan apa-apa, saya sih mau saja waktu itu. Soal-soal pun dipilih secara acak dari buku kumpulan soal-soal latihan tes UMPTN* dan EBTANAS** beberapa tahun sebelumnya yang masih rajin ia bawa ke mana-mana. Kemudian, adu cepat menyelesaikan soal matematika pun dimulai.
Bagaimana hasilnya? Siapa yang tercepat?
Ternyata benar, dalam beberapa menit saja, teman saya itu berhasil menyelesaikan semua soal yang sudah dipilih tadi (karena yang dipilih cuma 3 soal sih). Dan ia keluar sebagai yang tercepat, menjadi pemenang. Sedangkan saya, satu soal pun belum mampu saya selesaikan. Waktu itu, saya terlalu berkutat dengan soal nomor pertama yang lumayan sukar untuk ukuran saya waktu itu. Walau sudah dengan segenap kemampuan saya berusaha menyelesaikannya, tapi ternyata, sampai waktu habis belum ketemu juga. Saya pun mengakui kelebihan dan kehebatannya.
Dengan sedikit malu-malu, saya bertanya padanya tentang soal yang belum bisa saya selesaikan tersebut. Sambil saya tanyakan pula kenapa ia begitu cepat bisa menyelesaikan soal-soal tersebut. Soal yang waktu itu belum bisa saya selesaikan adalah seperti berikut ini.
Soal: Bila a + 1/a = 5, maka nilai dari a3 + 1/a3 =…
Dengan cepat teman saya itu pun menyelesaikan soal tersebut seperti berikut ini:
a3 + 1/a3 = (a + 1/a)3 – 3a.1/a(a + 1/a) = 53 – 3(5) = 125 – 15 = 110.
Melihat cara penyelesaiannya, saya hanya bisa melongo waktu itu. “Cuma satu baris? Padahal saya mencoba menyelesaikannya berbaris-baris, dan belum ketemu juga”, itu yang ada di pikiran saya. Kemudian, saya pun bertanya ke teman saya itu, kenapa cara pengerjaannya seperti itu?
Dengan senang hati, ia pun menjelaskan ke saya. Ia katakan bahwa, soal semacam tersebut dapat dengan mudah diselesaikan dengan rumus “cepat” berikut ini.
a3 + b3 = (a + b)3 – 3ab(a + b) ………………………………..(1)
Dengan mengganti b dengan 1/a, katanya, maka soal tadi dapat diselesaikan dengan cepat seperti yang sudah dikerjakannya tadi.
Saya yang tak terbiasa menggunakan rumus “cepat” ketika di SMA dulu, penasaran ingin tahu alasan kenapa rumus “cepat” tersebut bisa dipakai. Tapi sayang, teman saya itu tak memberi tahu saya. Malahan ia menambah lagi rumus cepat yang sudah ia ketahuinya, yaitu:
a3 – b3 = (a – b)3 + 3ab(a – b)……………………………….(2)
Akhirnya, ngobrol-ngobrol pun beres. Ia bergegas pulang menuju kost-kost-annya. Saya pun begitu, pulang dengan rasa penasaran yang mengganjal.
Di kost-kost-an, dengan penuh rasa penasaran ingin tahu, saya pun mengutak-atik rumus “cepat” yang telah ia gunakan tersebut. Setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya, terpecahkan juga rahasia rumus “cepat” yang dipakai teman saya tersebut. Saya berhasil menelusuri asal-muasal rumus “cepat” tersebut, berhasil menguak rahasianya. (Duh rasanya begitu senang sekali, tak bisa saya ekspresikan dengan kata-kata).
Hasil penelusuran saya tersebut, setelah saya rapikan, seperti berikut ini.
(a + b)3 = (a + b)2(a + b)
= (a2 + 2ab + b2)( a + b)
= a3 + a2b + 2a2b + 2ab2 + b2a + b3
= a3 + b3 + 3a2b + 3ab2
= a3 + b3 + 3ab (a + b)
Jadi, (a + b)3 = a3 + b3 + 3ab (a + b).
Sehingga, a3 + b3 = (a + b)3 – 3ab (a + b). Rumus “cepat” (1) dapat saya buktikan kebenarannya. Kemudian, dengan cara serupa, saya pun berhasil menelusuri asal-muasal rumus “cepat” (2).
Walaupun apa yang telah saya lakukan tersebut sederhana, tapi bagi ukuran saya waktu itu adalah sesuatu yang menggembirakan hati, menyenangkan pikiran, dan memuaskan dahaga keingin-tahuan saya.
Sejak saat itu, bila ada rumus-rumus “cepat” yang saya temui di buku-buku bimbingan tes, saya pun terpacu untuk menelusuri asal-muasalnya. Dengan cara seperti itu, saya seringkali berhasil memecahkan rahasia rumus-rumus “cepat” yang selama ini beredar luas di kalangan siswa yang mengikuti bimbingan test.
Baiklah, segitu dulu saja ceritanya ya…, lain kali insya Allah saya akan membahas baik-buruknya penggunaan rumus “cepat” (Ada satu cerita yang sangat menggelikan tentang hal ini. Mau tahu? Silakan tunggu di postingan mendatang…). Sampai di sini dulu ya…, mudah-mudahan bermanfaat.
Sebagai bahan latihan untuk Anda, cobalah telusuri asal-muasal rumus-rumus “cepat” berikut ini.
Persamaan garis yang melalui titik (0, a) dan (b, 0) adalah ax + by = ab.
Perhatikan gambar berikut. Panjang PQ dapat ditentukan dengan mudah, yaitu:
PQ = (AP. DC + DP. AB)/(AD)


Catatan:
*UMPTN: Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (Saat ini namanya SPMB)
**EBTANAS: Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Saat ini namanya UAN)
========================================================
Update: Artikel ini bisa juga dibaca di sini.

Menanamkan Kebiasaan Belajar yang Baik

ditulis oleh: Lianneke Gunawan dari berbagai sumber
Banyak guru pada umumnya memberi tip untuk murid bagaimana cara belajar yang baik. Namun untuk menanamkan dan mengembangkan belajar sebagai kebiasaan yang baik sangatlah sulit. Guru tidak bisa selalu memaksa murid untuk menjadikan belajar sebagai kebiasaan yang harus mereka lakukan sehari-hari. Apalagi bila murid sudah ada di rumah mereka.
Untuk menanamkan kebiasaan belajar yang baik selalu perlu adanya diskusi antara guru dengan murid. Tentu saja, diskusi ini untuk menyelesaikan tiap langkah yang harus dilakukan untuk menyelesaikan suatu tugas sekolah agar murid terpancing untuk selalu kritis dan mengemukakan pendapatnya. Dengan sendirinya semangat belajar akan terbentuk.
Guru juga dapat melakukan penelitian dan observasi dengan murid di lapangan. Sehingga belajar tidak melulu dilakukan di dalam kelas. Setelah dilakukan penelitian, murid mencatat apa saja yang telah mereka pelajari dari penelitian mereka. Ini dapat menjadikan proses belajar lebih menarik dan tidak membosankan.

Hidup “SEHAT” di Kota Polusi

ditulis oleh: Lianneke Gunawan dari berbagai sumber
Jika Anda hidup di kota besar, banyaknya polusi menambah tingkat kesulitan untuk menerapkan hidup "sehat" saat ini. Terlebih dengan adanya pilihan makanan yang sangat bervariasi. Entah itu makanan yang bergizi atau malahan makanan yang mengandung lemak tinggi. Namun kita harus tetap berusaha untuk dapat menjalankan hidup sehat tersebut, terutama menerapkah hidup "sehat" bagi anak-anak kita.
Berikut ini merupakan trik agar kita bisa tetap hidup sehat di tengah-tengah "serangan" polusi:1. Perhatikan makanan bergiziSelain makanan 4 sehat 5 sempurna, yang disarankan adalah penganan yang mengandung kalsium tinggi. Sederhananya, jika tubuh fit, secara alamiah kita akan lebih resistan terhadap polusi, termasuk zat-zat yang tidak diperlukan tubuh.
2. Olahraga rutinOlahraga membuat metabolisme tubuh semakin baik sehingga selalu siap menangkap dan mengeluarkan zat-zat yang berbahaya bagi tubuh termasuk bakteri, virus dan polutan.
3. Membersihkan udara di rumahMenggunakan penyejuk udara (AC) sebenarnya tidak terlalu berarti. Justru AC yang menggunakan ozon bisa menimbulkan ground ozone yang membahayakan karena sifatnya beracun. Lebih baik, sediakan ventilasi rumah sebanyak mungkin untuk mendapat udara segar. Kalaupun ingin menggunakan AC, pilih yang aman untuk lingkungan (biasanya tertera pada produk). Tidak lupa lakukan perawatan berkala, seperti bersihkan saringan minimal sekali seminggu dan hindari penggunaan yang terus-menerus.
4. Menghijaukan lingkunganLakukan penghijauan di rumah. Kenapa tumbuhan begitu penting? Karena tanaman bisa menghisap partikel-partikel (zat-zat polutan) yang bebas di udara.
5. Berlibur ke pegunungan atau pantaiSempatkan waktu untuk berlibur ke daerah yang rendah polusi seperti ke pegunungan atau pantai. Setidaknya bisa jadi refreshing dan membuat kita "lepas" dari polusi meski hanya untuk sementara waktu.
Jadi, siapkan diri Anda mulai hari ini untuk menerapkan hidup "sehat". Semoga trik-trik diatas bermanfaat!

Ajak Anak Kritis Membaca

ditulis oleh: Lianneke Gunawan dari berbagai sumber
Bila suatu kali anak Anda antusias menceritakan sebuah buku yang dibacanya, mungkin tak henti-hentinya dia akan membicarakan tentang buku itu. Itulah pertanda bahwa anak Anda tertarik dan menyukai buku itu. Maka yang dapat Anda lakukan untuk merangsang kemampuannya membaca adalah:
Tanya padanya, apa yang istimewa dari buku itu. Mengapa dia begitu terkesan?
Ajak anak membicarakan karya-karya lain dari si pengarang buku itu (bila membaca suatu buku dongeng atau cerita anak). Adakah kemiripannya? Apakah anak Anda juga menyukai buku-buku yang lain itu?
Bagaimana dengan kisah serupa pengarang yang lain? Tantang dia untuk membandingkan dan mempertentangkan buku-buku bertopik serupa. Mana yang dia suka? Mengapa?
Minta dia menceritakan kembali isi buku itu agar dia belajar membuat ringkasan.

Bagaimana membuat anak mau mempelajari hal-hal baru?

Melihat anak belajar sesuatu yang baru tanpa disuruh apalagi dipaksa, pasti membuat setiap orangtua senang melihatnya. Untuk menjadikan hal tersebut kenyataan, peran orangtua di rumah sangat mempengaruhi pola pikir pada anak. Berikut ini adalah tips agar anak mau mempelajari hal-hal baru:
Dukung dan berikanlah perhatian agar dapat memompa semangat belajarnya.
Ajaklah anak bermain dengan alat permainanan yang mempunyai penjelasan secara teoritis seperti sebab-akibat. Hal ini dapat memacu anak untuk ingin tahu.
Apabila di sekolah anak hanya mendapatkan teorinya berikanlah pelajaran praktek saat di rumah karena dapat menumbuhkan rasa ingin tahu dan anak menjadi semakin bersemangat untuk belajar.
Berikan pujian dan penghargaan atas hasil karya, maka anak akan bersemangat untuk berprestasi.
Hindari menggunakan kata-kata kasar pada anak, karena dapat menimbulkan anak menjadi semakin rendah diri.
Berikan bimbingan serta kalimat yang membuat hatinya senang, sebagai motivator saat belajar.
Orangtua yang senang membaca dapat mendorong anak untuk senang membaca pula, kemudian bahaslah bersama anak apa yang telah dibaca. Cara ini dapat membantu anak untuk berpikir secara praktis.

10 Cara untuk Meningkatkan Prestasi di Sekolah

ditulis oleh: Lianneke Gunawan dari berbagai sumber 10 cara penting yang dapat kamu lakukan untuk meningkatkan prestasi di sekolah:
1.
Jadilah seorang pemimpin. Latihlah rasa tanggung jawabmu.Apabila guru meminta bantuanmu untuk mengerjakan sesuatu misalnya membersihkan kelas, jangan ragu untuk menerimanya. Ajak beberapa teman kelas dan pimpin mereka untuk membersihkan kelas bersama-sama.
2.
Mendengarkan penjelasan guru dengan baik.Jawablah setiap pertanyaan yang diajukan oleh guru apabila kamu mengetahui jawabannya. Jangan menunggu guru untuk memanggil kamu untuk menjawab pertanyaan.
3.
Jangan malu untuk bertanya.Selalu ajukan pertanyaan kepada guru apabila tidak mengerti tentang sesuatu hal.
4.
Kerjakan PR dengan baik, jangan selalu mencari alasan untuk tidak mengerjakannya.Jangan malas mengerjakan PR dengan alasan lupa atau menunda-nunda mengerjakannya. Enak kan kalau kita cepat mengerjakan PR, jadi masih punya banyak waktu untuk bermain dan nonton TV deh!
5.
Setiap pulang dari sekolah, selalu mengulang pelajaran yang tadi diajarkan.Nanti sewaktu ada ulangan jadi tidak banyak yang harus dipelajari! Asyik!
6.
Cukup istirahat, makan dan bermain.Semuanya dilakukan secara berimbang. Setelah pulang sekolah, kita sering ingin cepat-cepat bermain dan melupakan segala hal penting lainnya, contohnya makan dan istirahat. Padahal setelah seharian di sekolah, tak terasa badan kita membutuhkan masukan energi tambahan yang bisa didapatkan dari istirahat dan makanan yang kita makan. Oleh karenanya kita harus dapat membagi waktu untuk makan, istirahat dan bermain. Kalau semuanya dilakukan dengan baik, badan jadi segar setiap hari! Jadi tidak sering mengantuk di kelas!
7.
Banyak berlatih pelajaran yang kurang disuka.Apabila kamu tidak menyenangi suatu mata pelajaran, contohnya matematika, maka banyak-banyaklah berlatih, mengikuti kursus atau belajar berkelompok dengan teman. Sehabis belajar bisa bermain dan menambah teman baru di tempat kursus. Selain itu, siapa tahu dari kurang menyukai matematika, kalian malahan menyukainya.
8.
Ikutilah kegiatan ektrakurikuler yang kamu senangi.Cari tahu kegiatan apa yang cocok dan kamu suka. Contohnya apabila kalian suka pelajaran tae kwon do, cobalah untuk mengikuti kursus dari kegiatan tersebut, sehingga selain belajar pelajaran-pelajaran yang diajarkan di sekolah, kalian juga dapat mendapatkan pelajaran tambahan di luar sekolah.
9.
Cari seorang pembimbing yang baik.Orangtua adalah pembimbing yang terbaik selain guru. Apabila ada yang kurang jelas dari keterangan guru di sekolah, kalian dapat menanyakan hal tersebut kepada orang tua. Selain itu, kalian juga dapat belajar dari teman yang berprestasi.
10.
Jangan suka mencontek teman.Kalau mencontek, kamu bisa bodoh karena tidak berpikir sendiri. Lagipula belum tentu, teman yang kamu contek itu menjawab pertanyaan dengan benar. Belum lagi kalau ketahuan guru dan teman lain, malu kan? Kalau kamu rajin belajar, pasti bisa menjawab semua pertanyaan dengan benar sehingga ulangan dapat nilai baik.

Dalam 100 Hari. Mendiknas Sukses Internetkan 18 Ribu Sekolah

Jakarta, Kominfo Newsroom -– Tiga dari delapan program kerja 100 hari Kementerian Pendidikan Nasional RI telah mencapai target 100 persen, kata Mendiknas Mohammad Nuh dalam pertemuan dengan wartawan di Gedung Kemendiknas RI di Jakarta, Selasa (5/1).
Program pertama yang telah selesai adalah penyediaan internet secara massal di sekolah-sekolah. Dari target 17.500 sekolah, katanya, telah tercapai 18.358 sekolah atau melebihi target.
Hadir pada acara penjelasan kepada para wartawan itu di antaranya Sekjen Kemendiknas Dodi Nandika, Dirjen Dikti Fasli Jalal, Dirjen PMPTK Baedhowi, Dirjen Mandikdasmen Suyanto, Dirjen PNFI Hamid Muhammad dan Irjen Kemendiknas M. Sofyan Lakki.
Mohammad Nuh menyebutkan, dari 33 provinsi, terdapat dua provinsi yang belum mendapatkan tambahan koneksi internet, hal itu karena keterbatasan infrastruktur pendukung. Dua provinsi itu adalah Maluku Utara dan Papua Barat.
''Untuk dua provinsi ini kami akan memasukkannya dalam program khusus. Jadi tidak masuk dalam program 100 hari karena memang ketersediaan infrastruktur pendukungnya relatif terbatas,'' katanya.
Mendiknas Mohammad Nuh menambahkan, program lainnya yang telah selesai 100 persen adalah beasiswa perguruan tinggi negeri (PTN) untuk 20.000 siswa SMA/SMK/MA berprestasi dan kurang mampu.
''Kemendiknas juga telah selesai menyusun dokumen Rencana Strategis Kemendiknas 2009-2014,'' katanya.
Sement era itu Dirjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PMPTK), Kemendiknas, Baedhowi mengatakan, untuk melaksanakan program 100 hari, sejak Desember 2009 pihaknya mulai menyiapkan pelatihan bagi 30.000 kepala sekolah/pengawas dan menyusun kebijakan khusus bagi guru yang bertugas di daerah terdepan dan terpencil.
Terk ait sertifikasi guru, katanya, mulai tahun 2010, tunjangan profesi guru, terutama yang lulus sertifikasi kuota tahun 2007, 2008, dan sebagian 2009 akan ditransfer melalui dana alokasi umum (DAU).
''Jumlah sasaran untuk 386.641 guru yang akan dialokasikan ditransfer,'' katanya.
Sement ara itu Dirjen Manajemen Pendidikan Dasar dan Menengah (Mandikdasmen) Kemendiknas Suyanto mengatakan, alokasi dana untuk Bantuan Operasional Sekolah (BOS) tahun 2010 tidak mengalami kenaikan karena sudah dinaikkan cukup signifikan dari tahun 2009.
Dia menyebutkan, unit cost untuk SD kabupaten Rp 397 ribu, SD kota Rp 400 ribu, SMP kabupaten Rp 570 ribu, dan SMP kota Rp 575 ribu.
''Angka absolut BOS yang digelontorkan tetap naik akibat dari kenaikan jumlah siswa yang masuk SMP dari SD,'' katanya.
Menuru t Suyanto, untuk jenjang SMA dan SMK diberikan bantuan operasional manajemen mutu (BOMM). Pada 2010 sasarannya adalah 2,1 juta siswa SMA sebesar Rp 189 ribu/siswa/tahun dan tiga juta siswa SMK Rp 360 ribu/siswa/tahun.
''Selain itu juga diberikan beasiswa untuk anak-anak yang kurang mampu tanpa memandang prestasi bagi 1,8 juta siswa SD, 751 ribu siswa SMP, 248 ribu siswa SMA dan 305 ribu siswa SMK,'' katanya dan menambahkan bahwa beasiswa juga diberikan kepada 211 ribu mahasiswa. (T.Ad/ysoel)

Rabu, 10 Februari 2010

PROFILE KEBONJERUK 16ELEMENTARY SCHOOL

PROFILE KEBONJERUK 16ELEMENTARY SCHOOL
Jl. Anggrek cakra Rt 007 / 09 Kebonjeruk Jakarta

Content

- Data
- Vision and Mission
- Objectives
- Teachers and Staffs
- Students Profiles
- School Program
- Governor Body
- Intra and extra activities
- Parents Roles
- School Agenda

School Data

- School : KEBONJERUK 16 Elementary School
- NIS : 100310
- Statistic Building No : 0082117507028006
- Address : Jl. Anggrek Cakra Rt 007/09
Kebon Jeruk West Jakarta
- Phone : (021) 536 4068
- No of Class : 7
- No of students : 232 (2009/2010)
- Supporting Building : 1 Library
1 Health Care Room
1 Computer Room

V I S ION Achieving High Quality School based on Faith and Belief

M I SSION
1. Giving best education services to all society
2. Improving professional learning community
3. to be center of exploring knowledgeand culture
4. Increasing morality and nation character

School Objectives
1. Improving students learning achievement
2. Increasing students creativity based on multiple intelligent
3. Improving students competition skills-improving school innovation and technology

Teachers and staff


No Name Position
1. Drs. Rudy Trisno, M.Pd Headteacher
2. S. Siregar Teacher grade 5
3. Mulyana Teacher grade 3
4. Asliyah Teacher grade 4
5. Sunangsih Teacher grade 1
6. Ukriana Teacher grade 6
7. Kholif Faturahman Islamic religion teacher
8. Vivi Rozalifah, S.Pd English teacher
9. Heri Heriana Sport and art teacher
10. Nurhidayah IT staff
11. Zubaidah Mathematic teacher
12. Hamzah Cleaning staff
13. Enah suhenah Cleaning staff

Teachers and staff

Sabtu, 16 Januari 2010

Bagaimana Menjadi Murid Yang Sukses

ditulis oleh Ardiani Prabawa dari berbagai sumber.

Sekolah dengan tahun ajaran baru sudah dimulai. Itu artinya kita harus mulai untuk rajin belajar lagi agar kita dapat melewati tahun ini dengan baik. Nah, agar kalian dapat menjadi seorang murid yang sukses melewati tahun ajaran ini, tips-tips dibawah ini mudah-mudahan dapat membantu:

1. Usahakan untuk masuk sekolah setiap hari.
Kadang kita merasa malas untuk bangun pagi, apalagi kalau di hari Senin. Aduh, rasanya masih mengantuk sekali. Akhirnya kita berpikir untuk mencari alasan agar tidak masuk sekolah. Untuk mengejar ketinggalan, kalian meminjam catatan dari temanmu. Eit, tunggu dulu, dengan meminjam catatan dari teman bukan berarti kalian dapat mengerti apa yang diajarkan oleh bapak dan ibu guru di sekolah lho. Pada saat temanmu menulis catatan tersebut, dia menuliskan apa yang dianggap perlu olehnya. Nah, bagaimana kalau ternyata ada hal penting lain yang tidak tercatat olehnya? Wah, bisa-bisa saat ditanyakan di ulangan, kita tidak dapat menjawabnya.

2. Mulailah masuk ke kelas dengan perasaan terbuka.
Kalian pasti bertanya-tanya, apa sih maksud dari kalimat diatas? Kita sering merasakan kita menyukai kelas yang satu sedangkan ada juga kelas yang tidak kita sukai. Entah itu karenanya gurunya galak, tidak dapat menerangkan dengan baik atau bahan yang diajarkan tidak menarik. Karena alasan itulah akhirnya kita sering ogah-ogahan untuk mengikuti kelas tersebut dengan baik. Wah, kalau kita merasa begini terus, bisa-bisa kita tidak dapat nilai bagus di buku rapor. Agar, nilai di rapor tetap memuaskan cobalah untuk tidak langsung men-cap kelas tersebut tidak menyenangkan. Dengarkan apa yang diajarkan oleh guru tersebut, lalu resapi pelajaran yang diajarkan hingga kalian mengerti. Kalau ada yang kurang jelas, cobalah untuk bertanya kepada guru tersebut. Ingat, bahwa semua guru menginginkan agar muridnya pintar dan beliau tidak akan lelah untuk mengajari hingga kalian mengerti. Dengan begitu, selain kamu mengerti pelajaran yang diajarkan, kalian juga menciptakan hubungan yang baik dengan guru kalian.

3. Selalu siap sebelum masuk kelas.
Untuk memastikan bahwa pelajaran yang diajarkan dimengerti oleh para muridnya, guru sering memberikan latihan untuk di rumah atau yang kita sebut dengan pekerjaan rumah (PR). Biasakan untuk menyelesaikan dan mengumpulkan PR tersebut di saat yang ditentukan. Apabila kalian kesulitan menyelesaikan tugas tersebut, kalian dapat meminta bantuan dari ayah, ibu, kakak, teman sekelas atau bahkan dari guru mata pelajaran tersebut. Begitu juga dengan tugas-tugas lain seperti prakarya atau kerajinan tangan. Cobalah untuk mengumpulkan tepat pada waktunya. Dengan demikian, nilai yang kalian dapatkan utuh dan tidak dipotong karena terlambat mengumpulkan.

4. Ikuti bimbingan belajar.
Kalian atau bahkan teman kalian pasti ada yang pernah ikut bimbingan belajar bukan? Bimbingan belajar dapat membantu kalian untuk lebih memperdalam pelajaran yang diajarkan di sekolah. Banyak bimbingan-bimbingan belajar yang dapat kalian ikuti. Pastikan sebelum mendaftar, bimbingan belajar yang kalian pilih merupakan bimbingan belajar yang baik. Coba tanyakan dengan teman kalian, bimbingan belajar apa yang diikutinya dan apakah itu membantunya untuk mengerti pelajaran di sekolah.

Nah, mulailah untuk rajin belajar dari sekarang dan selamat mencoba tips-tips diatas!