Sabtu, 26 Juni 2010

CARA TEPAT MEMOMPA MOTIVASI BELAJAR ANAK SD

Dengan metode yang tepat, hasilnya pun jadi maksimal.

Kiat memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di jenjang SD, usia ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kelas rendah (kelas 1-3 SD) dan kelas atas (kelas 4-6 SD). Masing-masing kategori, menurut Karmila Wardhana, S.Psi., memiliki ciri khas yang berbeda. Ikuti lebih jauh penjelasan praktisi psikologi dari Empati Development Centre, Jakarta ini agar kita dapat mengambil langkah yang tepat.

KELAS 1-3 SD

Anak-anak di kelas bawah masih menapaki masa transisi dari taman kanak-kanak yang aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang formal. Maksudnya, mereka dituntut untuk banyak berada dalam kelas dan duduk tenang memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.

Tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih dalam usia bermain. Sayangnya, banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini. "Anak kelas 1-2 belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal sekitar 15 menit. Jadi mereka bukan nakal kalau enggak bisa diam di kelas."

Berkaitan dengan masa transisi ini pula, seperti dituturkan Mila, orang tua mesti peka dengan kemungkinan munculnya school phobia pada anak. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan dari TK ke SD sering membuat murid kelas rendah "ketakutan". Salah satu penyebabnya, menurut Mila, "Ketika di TK, misalnya, anak hanya berhadapan dengan sejumlah kecil orang dan masih bisa ditunggui. Tapi saat SD, anak, kan, harus bertemu murid-murid dari kelas 1 sampai kelas 6. Sementara orang tuanya tidak bisa menunggui."

Belum lagi masalah karakter guru. Guru-guru TK yang biasanya manis-manis dan lembut digantikan dengan guru SD yang tegas. Tidak heran kalau banyak anak berkesimpulan gurunya galak padahal guru SD memang dituntut bersikap lebih tegas karena jumlah murid yang lebih banyak. "Kondisi-kondisi seperti itu," imbuh Mila, "acapkali membuat anak jadi merasa tidak aman lalu tidak mau sekolah."

Agar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1-3 SD atau kurang lebih 6-8 tahun. Inilah pokok-pokoknya:

. Belajar sambil bermain

Pada prinsipnya hampir sama dengan cara belajar anak TK. Namun, untuk anak SD alihkan ke cara bermain yang lebih konstruktif. "Tolong ambilkan Bunda 2 cokelat, dong. Nah, di tangan Bunda sudah ada 1 cokelat. Bunda jadi punya berapa cokelat sekarang? Suasana belajar pun tak perlu harus serius. Jadi tak selalu harus belajar dibelakang meja, bisa juga sambil tiduran di lantai, misalnya.

. Manfaatkan PR

Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra. Menurut Mila, selama tidak berlebihan, sebenarnya PR banyak memberi manfaat. Salah satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah. Masalah timbul kalau anak sering dijejali PR. Inilah yang menjadi beban bagi anak.

Manfaat PR lainnya, orang tua bisa mengetahui perkembangan anak. PR juga bisa dijadikan sebagai ajang kelekatan antarorang tua-anak. "Kalau setiap kali mengerjakan PR anak selalu ditemani orang tua, maka akan terjadi kelekatan. Bahkan, orang tua bisa memasukkan penanaman bahwa belajar penting untuk masa depan. Ini, kan bisa masuk dalam obrolan saat mengerjakan PR," ujar Mila.

Jadi, walau terdengar klise, manfaat yang didapat cukup besar. Salah satunya, anak merasa mendapat dukungan moral. "Walau PR-nya terasa susah, jika ada orang tua yang menemani, anak merasa di-support."

. Beri dukungan

Dukungan memang selalu diperlukan, terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit di sekolah. Bentuknya bisa sangat sederhana, misalnya ketika anak memperoleh nilai buruk, kita tidak perlu menjatuhkan vonis bahwa ia bodoh atau pemalas. Lebih baik, luangkan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan anak.

"Sebagai awal, orang tua perlu mencari tahu perasaan anak ketika memperoleh nilai 5. Apakah ia kecewa, sedih atau biasa-biasa saja, karena jangan-jangan ia tidak mengerti bahwa nilai 5 itu berarti kurang." Lalu tetaplah beri dukungan. "Untuk hari ini enggak apa-apa dapat 5. Kamu bisa dapat nilai yang lebih baik di ulangan berikutnya, tapi kamu harus belajar." Dukungan seperti itu sangat berarti buat anak. "Kalau orang tua marah, kepercayaan diri anak malah hilang. Sudah enggak pede di sekolah, anak juga enggak pede di rumah. Kan, kasihan."

. Jadilah model yang baik

Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. "Misalnya, ketika sedang mengerjakan PR anak melihat ibunya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa anak merasa diperlakukan tidak adil. 'Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?'"

Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak "belajar", seperti menemani anak sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.

. Tetapkan jam belajar

Misalnya, dari jam 5 sampai 7 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk beristirahat sebelum waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton teve, tidak mendengarkan radio, atau tidak bermain playstation. "Harus ada komitmen seperti itu. Lama-lama anak akan terbiasa, sehingga saat tiba waktunya belajar semua anggota keluarga di rumah akan belajar, tidak ada yang berisik."

ANAK 4-6 SD

Anak-anak SD kelas atas sebenarnya sudah diharapkan memiliki self learning regulation atau kesadaran untuk belajar sendiri. Jika pada anak kelas 1-3 SD, orang tua masih sangat terlibat dalam proses belajar anak, maka pada anak kelas 4-6 SD orang tua hanya jadi pendamping saja. Mereka sudah harus tahu apa yang mesti dikerjakan.

Namun begitu, orang tua tetap perlu menumbuhkan motivasi belajarnya agar tak kendur. Caranya, ingatlah bahwa salah satu ciri anak usia ini adalah penggunaan logika yang
sudah semakin mendalam. Orang tua perlu memberi alasan-alasan yang masuk akal tentang pentingnya belajar. Berikut beberapa kiatnya:

. Kaitkan dengan kegemaran anak

Misalnya, kalau kegemaran anak adalah menonton acara kuis di TV, orang tua bisa memberi komentar. "Dia bisa menang dan dapat hadiah mobil karena pintar. Wah, pasti dari kecil dia sudah senang belajar dan bisa mengatur waktu, deh!"

. Ajak untuk membuat jadwal

Pada usia ini biasanya anak mulai memiliki banyak kegiatan. Ada latihan basket, renang, jalan-jalan dengan teman, juga main games. Oleh karena itu, libatkan anak dalam pengaturan jadwal kegiatannya. Jelaskan bahwa anak boleh memiliki kegiatan apa pun, tapi belajar merupakan prioritas utama. Dengan diberi pengertian seperti itu dan dibiarkan mengatur jadwal sendiri, ia tidak akan merasa terpaksa. Jangan lupa, keterpaksaan hanya akan mengendurkan motivasi anak dalam belajar.

. Rencanakan masa depan

Karena murid-murid kelas atas, terutama kelas 5 dan 6 sudah akan memasuki sekolah lanjutan, orang tua perlu mengajak anak mengadakan rencana masa depan. "Kamu mau masuk SMP mana? Yuk kita mulai kejar dari sekarang supaya kamu bisa lolos ke sana!"

Namun, Mila mengingatkan agar orang tua juga melihat kenyataan. Jika harapan anak terlalu tinggi, maka harus didiskusikan. "Kalau orang tua melihat anak akan sulit masuk ke salah satu sekolah favorit, ia perlu diajak mencari alternatif. 'Kalau enggak keterima di situ,
kamu mau masuk sekolah mana lagi?' Namun tentunya orang tua tetap memotivasi anak untuk belajar lebih baik."

Berdasarkan penelitian, anak-anak yang berhasil ternyata memiliki pengaturan waktu yang baik, tertib mengikuti jadwal, dan disiplin dalam belajar. Itu semua bisa didapat bila anak sudah memiliki self learning regulation.

Namun ingat, selain memotivasi anak untuk belajar, orang tua juga perlu memberinya waktu bermain. Jangan sampai tujuh hari dalam seminggu diisi kegiatan belajar terus-menerus. "Mentang-mentang Senin-nya masuk sekolah, Minggu pun diharuskan belajar. Lebih baik gunakan hari libur sebagai playtime untuk menghindari kebosanan anak akan belajar," begitu Mila menekankan.

Faras Handayani . Foto: Iman/nakita

0 komentar: