SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967.

SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967

SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967

SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967

SDN KEBON JERUK 15

Jln. Anggrek Cakra No.70 Rt.007/09 Kec. Kebon Jeruk - Jakarta Barat Telp 021 5363967

Sabtu, 26 Juni 2010

KELAS PINTAR DAN KELAS BIASA

Belakangan makin banyak sekolah yang mengklaim punya kelas-kelas khusus seperti kelas akselerasi dan kelas unggulan, disamping kelas reguler. Inikah pembagian "kasta" yang akan mengkotak-kotakkan anak didik?

Selama ini masyarakat cuma tahu pembagian kelas di tiap jenjang sekadar penamaan. Artinya, kalau ada kelas A, B, dan C itu hanya agar jumlah murid dalam satu kelas tidak mbludak. Akan tetapi di awal tahun 90-an, penamaan kelas disinyalir mengalami pergeseran alias mengandung muatan kepentingan tertentu. Kelas A biasanya diperuntukkan bagi siswa yang memiliki tingkat kecerdasan prima atau jauh di atas rata-rata yang kemudian disebut kelas akselerasi. Lalu kelas B yang disebut kelas unggulan untuk mereka yang relatif pintar. Sementara kelas C atau kelas reguler untuk siswa yang prestasi akademisnya biasa-biasa saja.

Yang lebih memprihatinkan, pengadaan klasifikasi semacam itu bagi anak SD, tidak hanya terjadi di sekolah-sekolah favorit/unggulan yang umumnya merupakan sekolah swasta, melainkan juga sudah mulai merambah ke sekolah-sekolah negeri yang pengelolaannya di bawah naungan pemerintah. Tak heran bila kemudian muncul berbagai ungkapan bernada pesimis. Contohnya, "Apa artinya Pembukaan UUD 45? Bukankah dengan sistem 'kasta' begini, anak pintar semakin pintar, sementara anak yang otaknya tidak cemerlang justru akan kian bodoh."

PERBEDAAN CARA MENGAJAR

Benarkah demikian? Untungnya tidak. Hal ini dijelaskan Margaretha Purwanti, Psi, M.Si. dari Unika Atma Jaya, Jakarta yang berkata, "Proses pembelajaran bagi anak didik, baik di kelas khusus maupun di kelas biasa, intinya sama saja. Yakni menggunakan kurikulum nasional dengan jenis dan jumlah mata pelajaran yang sama."

"Yang membedakannya," lanjut Retha, "hanyalah cara si guru mengajar." Di kelas khusus, para guru benar-benar memposisikan dirinya sebagai fasilitator. Metode yang dipakainya berbeda, beban pelajarannya lebih berat dari biasa, jam belajarnya lebih lama, dengan jumlah murid per kelas yang lebih sedikit.

Tak heran bila mereka belajar lebih cepat ketimbang teman-temannya di kelas biasa, karena di kelas ini guru hanya "bertugas" menyampaikan materi pokok saja. Untuk selanjutnya, siswalah yang mesti aktif mencari dan melakukan berbagai eksperimen.

Sebaliknya di kelas reguler, kecepatan guru mengajar biasanya disesuaikan dengan kemampuan anak-anak. Sebagai konsekuensinya, proses belajar jadi lebih lambat karena guru harus menerangkan satu per satu secara detail. Peran guru pun tak cuma sebatas fasilitator, melainkan berperan penuh sebagai pengarah dan pendamping.

PENTINGNYA SOSIALISASI

Munculnya pandangan pesimis, menurut Retha, boleh jadi karena masyarakat belum paham betul apa yang dimaksud kelas khusus di jenjang pendidikan dasar, selain belum siapnya masyarakat menerima kenyataan dan tuntutan zaman. Bukankah selama ini dianut keseragaman alias harus sama rata.

Di awal diterapkannya program ini, kekhawatiran semacam itu memang muncul dan menjadi perhatian khusus. Bahkan 10 tahun lalu, kala program ini dinyatakan layak untuk diterapkan di Indonesia, para pakar pendidikan dan psikologi pun sudah mempertimbangkan hal-hal yang mungkin terjadi, seperti kemungkinan anak yang masuk kelas khusus bakal merasa eksklusif. Sementara anak di kelas biasa jadi iri atau rendah diri lantaran merasa dirinya terlahir sebagai anak yang tidak pintar.

PAHAMI TUJUANNYA

Retha menegaskan sebenarnya pemisahan kelas seperti ini bertujuan memfasilitasi mereka yang memiliki potensi dan kemampuan di atas rata-rata anak seusianya. "Dengan dimasukkan ke kelas-kelas khusus, diharapkan kemampuan mereka tidaklah sia-sia dan bisa lebih tergali serta terasah optimal."

Pemikiran semacam itu bertolak dari pengalaman dunia pendidikan Indonesia. "Sering sekali terjadi, kan, kalau anak berbakat dicampur dengan yang biasa-biasa saja, umumnya si anak berbakat merasa bosan. Akhirnya ia mengalami penurunan prestasi atau malah jadi malas bersekolah. Sayang sekali, kan, kalau potensi atau aset berharga ini tersia-siakan begitu saja?"

Nah, agar sisi negatif pemisahan kelas yang kemudian berujung pada pembagian "kasta" tidak terjadi, "Peran aktif guru sangat dituntut untuk bisa mengondisikan anak-anak didiknya," ujar Retha. Caranya, sekolah yang memiliki kelas-kelas khusus harus punya program belajar bersama. Maksudnya, ada saat-saat tertentu dimana anak dari kelas khusus disatukan dengan anak dari kelas biasa. Contohnya, saat pelajaran kesenian, olahraga, komputer, keterampilan, atau karyawisata.

ORANG TUA PALING TAHU

"Jika di kemudian hari anak menunjukkan peningkatan yang signifikan, sudah seharusnya guru menawarkan anak untuk masuk kelas khusus." Penawaran seperti ini, menurutnya harus diberlakukan juga pada semua anak saat pemilihan siapa saja yang layak masuk kelas khusus. Selain itu, guru harus bisa menjelaskan kepada anak mengenai perbedaan tersebut, sekaligus berdiskusi dengan orang tua mengenai semua konsekuensi yang akan dihadapi.

Mengingat orang tua merupakan sosok yang paling tahu kondisi anaknya, peran aktif orang tua untuk memberikan pandangan kepada anak sebelum dia mengambil keputusan sangatlah penting. Sekiranya anak tak sanggup, orang tua harus rela mengatakan bahwa tak apa-apa masuk kelas biasa. Toh masuk kelas khusus pun bukan jaminan bahwa kelak anak akan jadi orang sukses.

Idealnya lagi, pemilihan atau seleksi siapa saja yang bisa masuk kelas khusus, dilakukan setelah anak beberapa tahun mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar. "Kurang lebih dilakukan saat anak menjelang naik kelas lima atau enam." Pertimbangannya, konsistensi belajar dan keberbakatan anak sudah bisa terlihat dari nilai-nilainya, sikapnya, kemampuannya bersosialisasinya, hingga cara belajarnya di kelas.

Adapun 3 syarat yang harus dipenuhi seorang anak untuk bisa masuk kelas khusus adalah skor di atas rata-rata untuk IQ, kreativitas, dan task comitment atau ketekunan dan tanggung jawab terhadap tugas. Idealnya, jika salah satu syarat tersebut tidak terpenuhi, yang bersangkutan tidak diperbolehkan masuk kelas khusus anak berbakat, kelas akselerasi, maupun kelas unggulan.

Sayangnya, tukas Retha, justru inilah yang langka dilakukan sekolah-sekolah di Indonesia yang punya kelas-kelas khusus. Kebanyakan sekolah hanya menggunakan skor IQ semata. Tak heran bila makin banyak sekolah yang memiliki pemisahan kelas-kelas seperti ini, makin banyak pula masyarakat yang mempertanyakan kesungguhan niatnya.

Sayangnya lagi, sekalipun tujuannya baik dan cita-cita membangun kelas-kelas khusus bagi anak-anak berbakat ini sungguh mulia, negara kita ternyata belum siap melakukannya. Kurikulum dan kebanyakan SDM, dalam hal ini guru, belum siap menerapkan program kelas khusus ini. Belum lagi tak sedikit orang tua yang menolak anaknya masuk kelas khusus. "Malah ada, lo, yang terang-terangan memilih mundur dari kelas khusus dengan berbagai alasan. Seperti khawatir anaknya stres karena tak sempat main atau melakukan aktivitas lain."

Gazali Solahuddin. Foto: Vitri/nakita

BELAJAR MENGENAL SIAPA KITA BELAJAR SEJARAH

Banyak pihak mempertanyakan manfaat pelajaran sejarah di sekolah. Tak heran kalau pelajaran yang satu ini diusulkan untuk dihapus dari kurikulum SD.

Seiring dengan perjalanan waktu, makin banyak pula peristiwa bersejarah yang tercatat di bumi pertiwi ini. Itu berarti kian tebal pula materi pelajaran sejarah yang mesti dipelajari anak-anak kita. Padahal, mana mungkin seorang anak menghapal semua kejadian, mulai dari zaman kerajaan hingga reformasi. Jangankan anak, orang dewasa pun pasti pusing menghafal nama puluhan kejadian sejarah, mulai tempat dan tahun kejadian maupun pelakunya. "Saya sendiri sebagai sejarawan, tidak hafal semua tanggal dan tahun kejadian sejarah di Indonesia ataupun biografi para pahlawan mulai zaman kerajaan hingga sekarang. Yang saya hafal cuma tanggal kemerdekaan dan Soekarno, Presiden pertama Republik Indonesia," tutur sejarawan dari LIPI, Prof. Dr. Taufik Abdullah.

Beliau adalah satu dari beberapa cendekiawan yang meragukan sistem pembelajaran sejarah di tingkat sekolah dasar negeri ini. Apa perlunya kita semua menghafal seluruh kejadian sejarah di Indonesia, bahkan di dunia? Tidak adakah cara atau teknik lain untuk mempelajari sejarah selain menghafal tahun, tempat dan pelaku sejarah secara mentah?

Keraguan itu, menurut Taufik, sama sekali tidak identik dengan sikap tidak cinta tanah air. Ia dan yang lainnya semata-mata berpijak pada pengalaman bahwa sejarah yang dipelajarinya sejak tingkat SD hingga SMU sama sekali tidak dirasa bermanfaat begitu mereka memasuki dunia perguruan tinggi atau dunia kerja.

TIDAK BERGUNA

Kesimpulannya, seperti ditegaskan Taufik, menghafal tahun-tahun kejadian sejarah, termasuk tahun-tahun pembodohan selama ratusan tahun menjadi bangsa jajahan tidak ada gunanya. "Mempelajari rentetan kejadian yang pernah dialami bangsa Indonesia, bukanlah urusan anak SD. Itu urusan para ahli sejarah, jadi buat apa anak usia SD mempelajarinya? Bahkan sejarah sebagai disiplin ilmu pun merupakan bahasan mahasiswa di universitas. Makanya salah besar jika sejarah dijadikan disiplin ilmu di tingkat sekolah dasar."

Sejarah, menurutnya, baru tepat diberikan kepada anak usia SD kalau sebatas wacana. Pendapatnya itu bertolak dari pengamatan, bahwa ditilik dari aspek perkembangan, anak usia ini masih menjalani proses sosialisasi tahap awal untuk mengenal lingkungan dan masyarakatnya. Jadi, akan lebih mengena jika pelajaran sejarah dimulai dari lingkungan sekitarnya dulu, karena "pelajaran" sejarah haruslah memiliki tujuan-tujuan berikut:

* Memperkenalkan anak didik pada lingkungan di mana mereka berada.

* Memperkenalkan dinamika masyarakat yang mereka alami sehari-hari.

* Membuka wawasan anak akan arti hidup dalam kelompok masyakat yang bisa berbeda-beda.

* Memperkenalkan anak akan arti waktu.

* Memperkenalkan etik moralitas dalam kehidupan bermasyarakat.

PESAN EDUKATIF

Yang tidak kalah penting, tandas Taufik, adalah cara pembelajaran sejarah itu. "Lakukan dengan menyertakan contoh-contoh konkret mengenai kejadian sejarah. Jadi, bukan sekadar menghafal kejadian-kejadian masa lalu. Di tingkat SD yang seharusnya diajarkan adalah nilai-nilai atau pesan-pesan moral dan idealisme perjuangan bangsa. Soekarno presiden pertama RI, contohnya, adalah seorang insinyur yang pintar. Di saat itu dia mudah saja memperkaya diri sendiri dengan keahliannya. Namun dia tidak memilih jalur tersebut tapi memilih berjuang serta rela menjadi orang buangan demi kemerdekaan bangsa dan negaranya. Begitu juga dengan Bung Hatta, wakil presiden pertama RI yang bergelar sarjana ekonomi."

Kalau hal semacam itu yang disampaikan, Taufik yakin anak bisa menangkap pelajaran moralitas yang luhur. Setidaknya anak akan tahu bahwa Soekarno dan Hatta bukan saja proklamator sekaligus presiden dan wakil presiden pertama. Mereka juga akan bangga bahwa bangsa Indonesia merupakan bangsa yang bersatu dan rela berkorban demi kemakmuran rakyat dan negaranya.

Hal lain, anak pun akan tahu arti cita-cita serta perjuangan demi mencapai cita-cita tersebut. Pun anak jadi punya kesadaran bahwa setiap orang harus memiliki cita-cita yang menjadi tujuan hidupnya. Cita-cita inilah yang dalam perjalanannya bisa menjadi motivator bagi diri anak.

Dengan contoh-contoh seperti itu, ia bisa paham akan dirinya yang merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Dari situ, diharapkan akan tumbuh pemikiran, "Aku bisa merasakan hari-hari yang menyenangkan seperti ini, dengan bersekolah, main, tidur dan menikmati ini-itu karena pengorbanan para pahlawan. Kalau begitu, supaya semua bisa enak, seluruh warga negara harus memakmurkan bangsa dan negara dulu, bukan malah mengutamakan diri sendiri."

MULAILAH DARI LINGKUP TERDEKAT

Selain itu, Taufik mengingatkan, bahwa dalam memberikan pembelajaran sejarah, kita tidak bisa menggeneralisasi materi yang akan disampaikan. Setiap anak perlu mengenal lebih dulu sejarah yang paling dekat dengan dirinya. Bagi anak yang tinggal di Jakarta, contohnya, angkatlah topik sejarah yang berkaitan dengan kota Jakarta dan para pahlawannya. Begitu juga dengan kota atau daerah lain.

Dengan kedekatan yang melibatkan kelekatan hubungan emosional akan tumbuh interest untuk belajar sejarah. Tentu saja, itu tidak berarti kita tak perlu menyampaikan sejarah daerah lain, seraya menekankan bahwa pembelajaran sejarah merupakan pendidikan ke arah demokratisasi. Jadi, "Bukannya indoktrinasi seperti selama ini."

Agar tujuan tersebut tercapai, maka harus dirumuskan strategi pedagogis yang baik. Artinya, harus dirumuskan terlebih dulu apa yang diharapkan dari pembelajaran sejarah terhadap anak. Setidaknya untuk anak SD, anak tahu dirinya adalah anggota suatu masyarakat. Ia jadi tahu pula mana nilai-nilai kebenaran dan mana yang salah dalam mengupayakan pemenuhan cita-citanya.

Sayangnya, seperti diakui Taufik yang pernah membaca buku-buku sejarah tingkat SD hingga SMA dalam 2 versi, buku-buku tersebut tidak memiliki strategi pedagogis yang jelas. "Semua yang ada di buku itu tidak perlu diajarkan. Untuk apa anak-anak SD mempelajari tahun terjadinya sejarah hingga biografi pelakunya?"

Kendati begitu, ia tidak setuju jika gara-gara kualitas buku yang buruk, pelajaran sejarah dihapus dari kurikulum SD. "Hanya saja format pembelajarannya harus diubah, karena syarat sebagai seorang warga negara, kan, dia harus tahu di mana dia hidup dan tahu mengenai sejarah negaranya. Tapi ya tidak berarti semua sejarah dari A sampai Z harus diberikan kepada anak usia ini."

Cara memberi pembelajaran, menurut Taufik lebih baik dalam bentuk cerita, seperti halnya cerita sejarah dalam pelajaran agama. Dengan cara seperti itu, pendidik bisa menyampaikan pesan yang bisa langsung masuk ke kalbu sekaligus otak anak. Anak pun akan menyukai dan tidak merasa terbebani.

Yang pasti, Taufik menampik kabar mengenai sejarah Indonesia yang telah dimanipulasi. "Sejarah itu tidak bisa diubah. Yang jadi masalah adalah bagaimana cara seseorang menyampaikan atau menceritakan sejarah tersebut. Nah, faktor inilah yang bisa 'dimainkan' sehingga bahwa sejarah kemudian dijadikan alat doktrinasi golongan tertentu memang bisa saja terjadi."

Namun, Taufik yakin hingga sekarang rekaman sejarah di Indonesia benar adanya atau sesuai dengan kenyataan. Kendati begitu, "Kemungkinan salah memang ada, tapi bukan sesuatu yang disengaja. Itulah mengapa sejarah senantiasa perlu diperbaiki atau diluruskan."

Gazali Solahuddin. Foto; Iman/nakita

CARA TEPAT MEMOMPA MOTIVASI BELAJAR ANAK SD

Dengan metode yang tepat, hasilnya pun jadi maksimal.

Kiat memotivasi anak untuk belajar berbeda-beda menurut usianya. Di jenjang SD, usia ini dikelompokkan dalam dua kategori, yaitu kelas rendah (kelas 1-3 SD) dan kelas atas (kelas 4-6 SD). Masing-masing kategori, menurut Karmila Wardhana, S.Psi., memiliki ciri khas yang berbeda. Ikuti lebih jauh penjelasan praktisi psikologi dari Empati Development Centre, Jakarta ini agar kita dapat mengambil langkah yang tepat.

KELAS 1-3 SD

Anak-anak di kelas bawah masih menapaki masa transisi dari taman kanak-kanak yang aktivitas belajarnya dilakukan sambil bermain ke jenjang sekolah dasar yang formal. Maksudnya, mereka dituntut untuk banyak berada dalam kelas dan duduk tenang memperhatikan penjelasan guru serta mengerjakan tugas-tugas.

Tuntutan tersebut tentu saja menyulitkan karena sebenarnya murid-murid kelas rendah masih dalam usia bermain. Sayangnya, banyak orang tua, bahkan guru, melupakan ciri khas usia ini. "Anak kelas 1-2 belum bisa diharapkan duduk lama karena rentang perhatiannya maksimal sekitar 15 menit. Jadi mereka bukan nakal kalau enggak bisa diam di kelas."

Berkaitan dengan masa transisi ini pula, seperti dituturkan Mila, orang tua mesti peka dengan kemungkinan munculnya school phobia pada anak. Pahamilah bahwa perubahan-perubahan dari TK ke SD sering membuat murid kelas rendah "ketakutan". Salah satu penyebabnya, menurut Mila, "Ketika di TK, misalnya, anak hanya berhadapan dengan sejumlah kecil orang dan masih bisa ditunggui. Tapi saat SD, anak, kan, harus bertemu murid-murid dari kelas 1 sampai kelas 6. Sementara orang tuanya tidak bisa menunggui."

Belum lagi masalah karakter guru. Guru-guru TK yang biasanya manis-manis dan lembut digantikan dengan guru SD yang tegas. Tidak heran kalau banyak anak berkesimpulan gurunya galak padahal guru SD memang dituntut bersikap lebih tegas karena jumlah murid yang lebih banyak. "Kondisi-kondisi seperti itu," imbuh Mila, "acapkali membuat anak jadi merasa tidak aman lalu tidak mau sekolah."

Agar anak dapat melalui masa transisinya dengan mulus, orang tua dapat membantu dengan memberikan motivasi belajar yang pas menurut ciri khas anak usia kelas 1-3 SD atau kurang lebih 6-8 tahun. Inilah pokok-pokoknya:

. Belajar sambil bermain

Pada prinsipnya hampir sama dengan cara belajar anak TK. Namun, untuk anak SD alihkan ke cara bermain yang lebih konstruktif. "Tolong ambilkan Bunda 2 cokelat, dong. Nah, di tangan Bunda sudah ada 1 cokelat. Bunda jadi punya berapa cokelat sekarang? Suasana belajar pun tak perlu harus serius. Jadi tak selalu harus belajar dibelakang meja, bisa juga sambil tiduran di lantai, misalnya.

. Manfaatkan PR

Sampai saat ini Pekerjaan Rumah (PR) untuk murid kelas rendah masih menjadi pro-kontra. Menurut Mila, selama tidak berlebihan, sebenarnya PR banyak memberi manfaat. Salah satunya untuk mengulang sedikit pelajaran yang sudah didapat anak di sekolah. Masalah timbul kalau anak sering dijejali PR. Inilah yang menjadi beban bagi anak.

Manfaat PR lainnya, orang tua bisa mengetahui perkembangan anak. PR juga bisa dijadikan sebagai ajang kelekatan antarorang tua-anak. "Kalau setiap kali mengerjakan PR anak selalu ditemani orang tua, maka akan terjadi kelekatan. Bahkan, orang tua bisa memasukkan penanaman bahwa belajar penting untuk masa depan. Ini, kan bisa masuk dalam obrolan saat mengerjakan PR," ujar Mila.

Jadi, walau terdengar klise, manfaat yang didapat cukup besar. Salah satunya, anak merasa mendapat dukungan moral. "Walau PR-nya terasa susah, jika ada orang tua yang menemani, anak merasa di-support."

. Beri dukungan

Dukungan memang selalu diperlukan, terutama saat anak menghadapi masa-masa sulit di sekolah. Bentuknya bisa sangat sederhana, misalnya ketika anak memperoleh nilai buruk, kita tidak perlu menjatuhkan vonis bahwa ia bodoh atau pemalas. Lebih baik, luangkan waktu untuk mendiskusikan masalah tersebut dengan anak.

"Sebagai awal, orang tua perlu mencari tahu perasaan anak ketika memperoleh nilai 5. Apakah ia kecewa, sedih atau biasa-biasa saja, karena jangan-jangan ia tidak mengerti bahwa nilai 5 itu berarti kurang." Lalu tetaplah beri dukungan. "Untuk hari ini enggak apa-apa dapat 5. Kamu bisa dapat nilai yang lebih baik di ulangan berikutnya, tapi kamu harus belajar." Dukungan seperti itu sangat berarti buat anak. "Kalau orang tua marah, kepercayaan diri anak malah hilang. Sudah enggak pede di sekolah, anak juga enggak pede di rumah. Kan, kasihan."

. Jadilah model yang baik

Ini berarti orang tua jangan sampai terlihat santai saat anak sedang belajar. "Misalnya, ketika sedang mengerjakan PR anak melihat ibunya menonton televisi dan ayahnya tidur. Bisa-bisa anak merasa diperlakukan tidak adil. 'Ih, ayah, kok, bisa tidur sedangkan aku harus belajar?'"

Akan lebih baik bila saat anak belajar, orang tua juga tampak "belajar", seperti menemani anak sambil membaca koran atau buku. Dengan begitu anak akan mendapat panutan.

. Tetapkan jam belajar

Misalnya, dari jam 5 sampai 7 disepakati sebagai jadwal belajar anak. Namun, jadwal harus dibuat dengan mempertimbangkan jam sekolahnya. Berilah ia waktu untuk beristirahat sebelum waktu belajar. Saat waktunya belajar, anak harus diberi pengertian bahwa rentang waktu itu harus diisi hanya untuk kegiatan belajar. Artinya ia tidak nonton teve, tidak mendengarkan radio, atau tidak bermain playstation. "Harus ada komitmen seperti itu. Lama-lama anak akan terbiasa, sehingga saat tiba waktunya belajar semua anggota keluarga di rumah akan belajar, tidak ada yang berisik."

ANAK 4-6 SD

Anak-anak SD kelas atas sebenarnya sudah diharapkan memiliki self learning regulation atau kesadaran untuk belajar sendiri. Jika pada anak kelas 1-3 SD, orang tua masih sangat terlibat dalam proses belajar anak, maka pada anak kelas 4-6 SD orang tua hanya jadi pendamping saja. Mereka sudah harus tahu apa yang mesti dikerjakan.

Namun begitu, orang tua tetap perlu menumbuhkan motivasi belajarnya agar tak kendur. Caranya, ingatlah bahwa salah satu ciri anak usia ini adalah penggunaan logika yang
sudah semakin mendalam. Orang tua perlu memberi alasan-alasan yang masuk akal tentang pentingnya belajar. Berikut beberapa kiatnya:

. Kaitkan dengan kegemaran anak

Misalnya, kalau kegemaran anak adalah menonton acara kuis di TV, orang tua bisa memberi komentar. "Dia bisa menang dan dapat hadiah mobil karena pintar. Wah, pasti dari kecil dia sudah senang belajar dan bisa mengatur waktu, deh!"

. Ajak untuk membuat jadwal

Pada usia ini biasanya anak mulai memiliki banyak kegiatan. Ada latihan basket, renang, jalan-jalan dengan teman, juga main games. Oleh karena itu, libatkan anak dalam pengaturan jadwal kegiatannya. Jelaskan bahwa anak boleh memiliki kegiatan apa pun, tapi belajar merupakan prioritas utama. Dengan diberi pengertian seperti itu dan dibiarkan mengatur jadwal sendiri, ia tidak akan merasa terpaksa. Jangan lupa, keterpaksaan hanya akan mengendurkan motivasi anak dalam belajar.

. Rencanakan masa depan

Karena murid-murid kelas atas, terutama kelas 5 dan 6 sudah akan memasuki sekolah lanjutan, orang tua perlu mengajak anak mengadakan rencana masa depan. "Kamu mau masuk SMP mana? Yuk kita mulai kejar dari sekarang supaya kamu bisa lolos ke sana!"

Namun, Mila mengingatkan agar orang tua juga melihat kenyataan. Jika harapan anak terlalu tinggi, maka harus didiskusikan. "Kalau orang tua melihat anak akan sulit masuk ke salah satu sekolah favorit, ia perlu diajak mencari alternatif. 'Kalau enggak keterima di situ,
kamu mau masuk sekolah mana lagi?' Namun tentunya orang tua tetap memotivasi anak untuk belajar lebih baik."

Berdasarkan penelitian, anak-anak yang berhasil ternyata memiliki pengaturan waktu yang baik, tertib mengikuti jadwal, dan disiplin dalam belajar. Itu semua bisa didapat bila anak sudah memiliki self learning regulation.

Namun ingat, selain memotivasi anak untuk belajar, orang tua juga perlu memberinya waktu bermain. Jangan sampai tujuh hari dalam seminggu diisi kegiatan belajar terus-menerus. "Mentang-mentang Senin-nya masuk sekolah, Minggu pun diharuskan belajar. Lebih baik gunakan hari libur sebagai playtime untuk menghindari kebosanan anak akan belajar," begitu Mila menekankan.

Faras Handayani . Foto: Iman/nakita

Ciri Kecenderungan Belajar Dan Cara Belajar Anak SD dan MI

Ciri Kecenderungan Belajar Dan Cara Belajar Anak SD dan MI

Jean Piaget (1950) menyatakan bahwa setiap anak memiliki cara tersendiri dalam menginterpretasikan dan beradaptasi dengan lingkungannya (teori perkembangan kognitif). Menurutnya, setiap anak memiliki struktur kognitif yang disebut schemata yaitu sistem konsep yang ada dalam pikiran sebagai hasil pemahaman terhadap objek yang ada dalam lingkungannya. Pemahaman tentang objek tersebut berlangsung melalui proses asimilasi (menghubungkan objek dengan konsep yang sudah ada dalam pikiran) dan proses akomodasi (proses memanfaatkan konsep-konsep dalam pikiran untuk menafsirkan objek). Kedua proses tersebut jika berlangsung terus menerus akan membuat pengetahuan lama dan pengetahuan baru menjadi seimbang. Dengan cara seperti itu secara bertahap anak dapat membangun pengetahuan melalui interaksi dengan lingkungannya. Berdasarkan hal tersebut, maka perilaku belajar anak sangat dipengaruhi oleh aspek-aspek dari dalam dirinya dan lingkungannya. Kedua hal tersebut tidak mungkin dipisahkan karena memang proses belajar terjadi dalam konteks interaksi diri anak dengan lingkungannya.

Anak usia sekolah dasar berada pada tahapan operasi konkret. Pada rentang usia sekolah dasar tersebut anak mulai menunjukkan perilaku belajar sebagai berikut: (1) Mulai memandang dunia secara objektif, bergeser dari satu aspek situasi ke aspek lain secara reflektif dan memandang unsur-unsur secara serentak, (2) Mulai berpikir secara operasional, (3) Mempergunakan cara berpikir operasional untuk mengklasifikasikan benda-benda, (4) Membentuk dan mempergunakan keterhubungan aturan-aturan, prinsip ilmiah sederhana, dan mempergunakan hubungan sebab akibat, dan (5) Memahami konsep substansi, volume zat cair, panjang, lebar, luas, dan berat.

Memperhatikan tahapan perkembangan berpikir tersebut, kecenderungan belajar anak usia sekolah dasar memiliki tiga ciri, yaitu:

(1) Konkrit. Konkrit mengandung makna proses belajar beranjak dari hal-hal yang konkrit yakni yang dapat dilihat, didengar, dibaui, diraba, dan diotak atik, dengan titik penekanan pada pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar. Pemanfaatan lingkungan akan menghasilkan proses dan hasil belajar yang lebih bermakna dan bernilai, sebab siswa dihadapkan dengan peristiwa dan keadaan yang sebenarnya, keadaan yang alami, sehingga lebih nyata, lebih faktual, lebih bermakna, dan kebenarannya lebih dapat dipertanggungjawabkan. (2) Integratif; Pada tahap usia sekolah dasar anak memandang sesuatu yang dipelajari sebagai suatu keutuhan, mereka belum mampu memilah-milah konsep dari berbagai disiplin ilmu, hal ini melukiskan cara berpikir anak yang deduktif yakni dari hal umum ke bagian demi bagian. (3) Hierarkis; Pada tahapan usia sekolah dasar, cara anak belajar berkembang secara bertahap mulai dari hal-hal yang sederhana ke hal-hal yang lebih kompleks. Sehubungan dengan hal tersebut, maka perlu diperhatikan mengenai urutan logis, keterkaitan antar materi, dan cakupan keluasan serta kedalaman materi .

6 indikator pengelolaan kelas yang berhasil

Pembaca sekalian, tulisan ini dibuat menyambut respon dari Ibu Ayu yang menanyakan mengenai indikator pengelolaan kelas yang berhasil. Uniknya melalui upaya menjawab pertanyaan beliau saya malah mendapat hal-hal yang baru. Salah satu yang membuat saya terkejut adalah perihal memberikan siswa konsekuensi, yang ternyata sama dengan mengancam siswa. Semuanya saya dapat dari situs teachers.net. silahkan menikmati indikator-indikator berikut ini.

1. Guru mengerti perbedaan antara mengelola kelas dan mendisiplinkan kelas

2. Sebagai guru jika anda pulang ke rumah tidak dalam keadaan yang sangat lelah.

3. Guru mengetahui perbedaan antara prosedur kelas (apa yang guru inginkan terjadi contohnya cara masuk kedalam kelas, mendiamkan siswa, bekerja secara bersamaan dan lain-lain ) dan rutinitas kelas (apa yang siswa lakukan secara otomatis misalnya tata cara masuk kelas, pergi ke toilet dan lain-lain). Ingat prosedur kelas bukan peraturan kelas.

4. Guru melakukan pengelolaan kelas dengan mengorganisir prosedur-prosedur, sebab prosedur mengajarkan siswa akan pentingnya tanggung jawab.

5. Guru tidak mendisiplinkan siswa dengan ancaman-ancaman, dan konsekuensi.(stiker, penghilangan hak siswa dan lain-lain)

6. Guru mengerti bahwa perilaku siswa di kelas disebabkan oleh sesuatu, sedangkan disiplin bisa dipelajari

Ada dua hal yang membedakan antara guru yang berhasil dengan yang tidak.

1. Guru yang kurang berhasil menghabiskan hari-hari pertama di tahun ajaran dengan langsung mengajarkan subyek mata pelajaran kemudian sibuk mendisiplinkan siswa selama setahun penuh.

2. Guru yang efektif menghabiskan dua minggu pertama ditahun ajaran dengan meneguhkan prosedur.

7 sifat pemimpin yang baik di sekolah

stilah pemimpin dalam bidang pendidikan atau educational leadership mengacu pada pemimpin di sekolah yang berusaha memadukan tiga kepentingan yang utama di sekolah. Kepentingan tersebut adalah kepentingan guru, kepentingan siswa dan kepentingan orang tua. Dimasa sekarang sekolah menghadapi tantangan yang sangat berat dikarenakan sekolah diharapkan bisa menjadi jawaban dari berubahnya jaman dan banyaknya sumber pengetahuan diluar sekolah.

Seth Godin seorang ahli perubahan dan kepemimpinan menyarankan 7 sifat yang membuat pemimpin mampu menghadapi tantangan di abad 21, saya akan coba mencari hubungan dengan dunia pendidikan.

  1. Challenge – Tantangan. Pemimpin yang baik memberi tantangan kepada komunitas sekolahnya. Tantangan disini tidak selalu dalam pengertian prestasi yang terukur, lulus UAN 100 persen misalnya. Walaupun hal tersebut juga bukan hal yang jelek tetapi mengapa tidak dicoba hal-hal lain. Sekolah bebas bullying, sekolah yang melek TIK atau mengefektifkan pembelajaran di kelas dengan perencanaan yang matang misalnya . Banyak hal yang bisa dijadikan tantangan, dan hanya pemimpin sekolah yang baik yang bisa membuat tantangan menjadi kenyataan. Terkadang terlalu tinggi menggantung standar juga akan berakibat tidak baik, hitunglah sumber daya dan keunggulan apa yang sekolah punyai. Baru kemudian tantangan atau target bisa dimulai dari sana. Ingat sukses yang besar dimulai dari sukses yang kecil-kecil
  2. Culture – Budaya. Pemimpin yang baik secara sadar menciptakan budaya. Budaya tepat waktu, bisa dimulai dari hal yang kecil, tidak terlambat saat memulai rapat, atau masuk sekolah. Budaya menghormati orang lain bisa dimulai dengan mematikan HP saat rapat sedang berlangsung dan tidak berbicara satu sama lain saat ada orang yang berbicara didepan podium. Hal-hal yang sederhana namun diterapkan secara terus menerus bisa dengan mudah menjadi budaya positip di sekolah. Jangan lupa memberi selamat atau reward kepada guru atau siswa yang mempraktekan kebiasaan yang baik.
  3. Curiosity – Ingin tahu. Pemimpin sekolah yang baik selalu ingin tahu. Selalu bertanya untuk segala kemungkinan yang terbaik. Jika ada guru atau siswa mengeluhkan mnegenai sesuatu hal, ia akan mengajarkan atau memberi contoh untuk mencari tahu apa yang mungkin bisa dilakukan sekaligus bersama-sama mencari jalan keluar. Memang sudah menjadi tugas pemimpin untuk menangani keluhan dari semua pihak, guru, siswa dan orang tua. Namun pemimpin yang baik bisa mendengarkan, memberi masukan sekaligus menyelesaikan dengan bijaksana.
  4. Charisma - Berkarisma. Karisma bukan hal yang wajib bagi pemimpin. Orang seperti Soekarno memang berkarisma, buat kita yang orang biasa, berharap mempunyai karisma seperti beliau nampaknya hanya mimpi. Semua pemimpin sebenarnya dengan gampang bisa mempunyai karisma, tergantung caranya memimpin.
  5. Communicate – Berkomunikasi. Pemimpin yang baik berbicara ‘dengan’ kita bukan berbicara’kepada’ kita. Merupakan sebuah hal yang berbeda bukan? Kedua istilah tersebut kelihatan sederhana. Namun terasa sekali bedanya. Ketika seorang pemimpinyang baik berbicara dengan staf, guru atau orang tua saat yang sama pemimpin menjadi pendengar yang baik, mau mengerti dan menempatkan harga diri rasa kepercayaan serta itikad baik terhadap orang lain diatas segalanya.
  6. Connect – Terhubung. Pemimpin disekolah yang baik selalu terkoneksi dengan semua orang. Dengan cepat orang lain bisa tahu apa yang sedang dikerjakan olehnya. Caranya bisa bermacam-macam dari berbicara didepan rapat mengenai apa yang dilakukannya, menulis di bulletin sekolah sampai menulis blog di internet. Tidak usah dengan artikel yang panjang dengan dot points saja sudah cukup untuk memberi kabar pada semua orang yang terlibat dengan pekerjaannya sebagai pemimpin.
  7. Commit – komitmen. Pemimpin yang baik menaruh komitmen yang tinggi terhadap kesejahteraan dan perasaan orang-orang disekitarnya. Ada pepatah yang mengatakan bahwa kita tidak bisa menyenangkan semua orang, tapi pemimpin yang baik tahu apa masalah mandasar yang semua orang inginkan dan rasakan. Juga tidak melulu masalah penggajian. Sebab kadang persoalan gaji di sekolah swasta tergantung dengan kemampuan sekolah dan banyak nya siswa. Masih banyak cara mensejahterakan bawahan, persoalannya pemimpin yang baik tahu cara mencari benefit atau keuntungan lain yang bisa didapat oleh bawahannya dengan bekerja di sekolah yang ia pimpin.

10 ciri guru profesional

1. Selalu punya energi untuk siswanya
Seorang guru yang baik menaruh perhatian pada siswa di setiap percakapan atau diskusi dengan mereka. Guru yang baik juga punya kemampuam mendengar dengan seksama.

2. Punya tujuan jelas untuk Pelajaran
Seorang guru yang baik menetapkan tujuan yang jelas untuk setiap pelajaran dan bekerja untuk memenuhi tujuan tertentu dalam setiap kelas.

3. Punya keterampilan mendisiplinkan yang efektif
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan disiplin yang efektif sehingga bisa mempromosikan perubahan perilaku positif di dalam kelas.

4. Punya keterampilan manajemen kelas yang baik
Seorang guru yang baik memiliki keterampilan manajemen kelas yang baik dan dapat memastikan perilaku siswa yang baik, saat siswa belajar dan bekerja sama secara efektif, membiasakan menanamkan rasa hormat kepada seluruh komponen didalam kelas.

5. Bisa berkomunikasi dengan Baik Orang Tua
Seorang guru yang baik menjaga komunikasi terbuka dengan orang tua dan membuat mereka selalu update informasi tentang apa yang sedang terjadi di dalam kelas dalam hal kurikulum, disiplin, dan isu lainnya. Mereka membuat diri mereka selalu bersedia memenuhi panggilan telepon, rapat, email dan sekarang, twitter.

6. Punya harapan yang tinggi pada siswa nya
Seorang guru yang baik memiliki harapan yang tinggi dari siswa dan mendorong semua siswa dikelasnya untuk selalu bekerja dan mengerahkan potensi terbaik mereka.

7. Pengetahuan tentang Kurikulum
Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan mendalam tentang kurikulum sekolah dan standar-standar lainnya. Mereka dengan sekuat tenaga memastikan pengajaran mereka memenuhi standar-standar itu.

8. Pengetahuan tentang subyek yang diajarkan
Hal ini mungkin sudah jelas, tetapi kadang-kadang diabaikan. Seorang guru yang baik memiliki pengetahuan yang luar biasa dan antusiasme untuk subyek yang mereka ajarkan. Mereka siap untuk menjawab pertanyaan dan menyimpan bahan menarik bagi para siswa, bahkan bekerja sama dengan bidang studi lain demi pembelajaran yang kolaboratif.

9. Selalu memberikan yang terbaik untuk Anak-anak dan proses Pengajaran
Seorang guru yang baik bergairah mengajar dan bekerja dengan anak-anak. Mereka gembira bisa mempengaruhi siswa dalam kehidupan mereka dan memahami dampak atau pengaruh yang mereka miliki dalam kehidupan siswanya, sekarang dan nanti ketika siswanya sudah beranjak dewasa.

10. Punya hubungan yang berkualitas dengan Siswa
Seorang guru yang baik mengembangkan hubungan yang kuat dan saling hormat menghormati dengan siswa dan membangun hubungan yang dapat dipercaya.

Disarikan dari situs Apple for the teacher

Salah satu metode belajar untuk SD di Singapura pada kelas Gemuk (1 kelas ada 40siswa)

Artikel ini saya dapatkan dari pengalaman Bapak Munif Chatib, beliau melihat dan mengamati bagaimana pembelajaran di SD kelas 5. Beliau sempat kaget karena mengetahui ada banyak kelas gemuk (40siswa) di Singapura. Beliaupun merasa akan melihat suatu pembelajaran yang membosankan, sangat kacau dan melihat siswa2nya seperti robot di Kelas. Namun ketika mulai melihat kegiatan belajar mengajarnya beliau terkesan, rasa bosan dan perasaan akan melihat pembelajaran yang kacau pun sirna. Berikut ini adalah pengalamannya:


Seorang guru masuk kelas, memberi pengantar selama 10 menit. Pengantar itu ternyata adalah problem matematika yang harus diselesaikan. Guru tersebut memberitahukan cara menyelesaikannya. Saya memperhatikan betul, ternyata guru mengajarkan ada dua cara menyelesaikan masalah itu. Problem matematika yang saya maksud tentang variabel. Saya melihat jam tangan, sudah 15 menit berlangsung, dan guru memberi kesempatan siswanya bertanya. Ada dua orang siswa yang bertanya, dengan cepat dijawab oleh sang guru, sampai-sampai siswa tersebut mengangung-angguk pasti. Saya masih menunggu, apa yang akan dilakukan guru ini kemudian.

Nah ternyata kuncinya adalah pada menit-menit berikutnya, guru langsung membagi siswa menjadi 8 kelompok, masing-masing 5 siswa. Lalu ada 3 kelompok diberikan lembaran soal dengan kode A, 3 kelompok berikutnya dengan kode B, sedangkan 2 kelompok sisanya diberikan lembaran soal C. Kemudian guru tersebut menjelaskan, bahwa 3 kelompok yang mendapat lembaran A diminta menyelesaikan problem dengan solusi A, 3 kelompok yang lain menyelesaikan dengan solusi B dan yang luar biasa, 2 kelompok sisa diminta berpikir untuk menyelesaikan problem dengan solusi yang lain, maksudnya bukan A atau B.

Aba- aba diberikan oleh guru dengan memberikan informasi bahwa soal harus selesai dalam waktu 15 menit sambil menunjukkan jarum jam di belakang kelas. Siswa langsung membentuk kelompok dan mulailah kelas ramai dengan suara-suara siswa berdiskusi.
Saya diperbolehkan menghampiri setiap kelompok dan saya sempat lihat soal yang diberikan guru, ternyata hanya dua soal. Yang menarik, saya melihat terdapat kebingungan pada dua kelompok terakhir yang menerima lembaran soal C. Mereka tampaknya kesulitan. Sesekali menghampiri guru dan bertanya. Saya melihat sang guru hanya berkeliling memperhatikan masing-masing kelompok, sambil sekali-kali mengingatkan batasan waktu.

Begitu waktunya habis, meminta setiap kelompok berhenti berdiskusi, dan seperti yang saya duga, waktunya setiap kelompok presentasi. Tiga kelompok pertama (A) presentasi dalam waktu 5 menit, demikian juga tiga kelompok kedua(B) dan yang paling mengasyikkan adalah kelompok C yang maju namun tidak bisa mempresentasikan apa-apa, sebab mereka belum menemukan solusi selain A dan B.
Ternyata intinya di sini, guru mengambil peran lagi, bagaimana memberikan cara berpikir untuk menemukan solusi yang ketiga. Dan akhirnya mereka berhasil.

Setelah break sebentar, saya langsung mendatangi sang guru, dan bertanya tentang proses belajar selama 40 menit yang barusan berlangsung, tanpa kesulitan guru tersebut mengajar pada kelas yang gemuk. Sambil tersenyum guru tersebut menjawab, ada tiga kunci.

Kunci pertama adalah GROUPING. Bagilah para siswa menjadi group atau kelompok. Setiap saya mengajar, kata guru tersebut, pasti saya bagi menjadi beberapa kelompok. Sebelumnya saya memebrikan semacam prolog atau scene setting tentang materi. Untuk matematika, prolog itu berupa masalah riel sehari-hari dan bagaimana menyelesaikannya. Dalam group mereka mengerjakan kasus lain yang solusinya serupa. Namun selalu saya tantang siswa untuk menemukan solusi yang lain. Biasanya kelompok inilah yang akan menjadi kunci dalam diskusi nanti.

Kunci kedua adalah TIME FRAME. Setiap prosedur yang dilakukan siswa harus dibatasi waktu. Sebab itu saya tidak henti-hentinya mengingatkan batasan waktu kepada kelompok. Time Frame ini sangat penting agar guru dapat mengkontrol seluruh waktu yang ada untuk aktivitas semua kelompok. Kata guru tersebut Time Frame ini bermacam-macam modelnya, saat ini dengan jarum jam. Biasanya saya memakai timer, peluit atau musik.

Kunci ketiga adalah PRESENTATION. Kelompok yang sudah bekerja harus mempresentasikan hasil pekerjaannya. Biasanya kelompok yang mampu menyelesaikan problem matematikanya adalah kelompok yang sudah diberi contoh langkah-langkah pengerjaannya. Presentasi yang menarik biasanya pada kelompok yang diberikan tingkat kesulitan dengan mencari solusi yang lain untuk menyelesaikan tugasnya. Pada bagian inilah yang biasanya seru dan menarik. Mereka diajak untuk mencari sendiri jalan keluar dari sebiha permasalahan matematika.

Saya hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat kepada guru tersebut atas demontrasi mengajarnya yang mengesankan. Meskipun awalnya saya pesimis mengingat kelas yang gemuk, namun saya melihat ruh management class yang baik sekali. GROUPING, TIME FRAME, dan PRESENTATION.


Tulisan ini saya tulis karena menurut saya akan sangat bermanfaat bagi saya nantinya. dan semoga bisa bermanfaat bagi kalian semua. terimakasih.

Cara Hafal Anak Kelas 3 Sd

Sejalan dengan perkembangan fisik, pada seorang anak juga mengalami perkembangan kognisi (kemampuan berpikir). Bisa jadi anaknya masih dalam tahapan berpikir konkrit praktis dimana segala informasi/data2 yang masuk haruslah data2 yang konkrit, nyata dan bisa diterima oleh panca indranya. jadi kalau diminta untuk hafal buta berdasarkan kalimat2 dari buku, kalimat2/informasi yang bersifat abstrak (anaknya belum bisa memiliki kemampuan membayangkan), tentunya menjadi sulit). Kalau saya boleh usul, ketika belajar (belajar apa saja), tolong bantu dia dengan mempersiapkan alat peraga, jadi si anak punya bukti/data otentik tentang hal2 yang harus dikuasainya dan tentunya informasi yang diperoleh dengan banyak bantuan dari alat2 peraga, tentunya akan lebih mudah diingat oleh si anak.

Misalnya belajar tentang klorophyl (tujuannya mau menjelaskan zat hijau daun), ambil saja daun2 yang berwarna hijau dan yang tidak punya warna hijau untuk kasih tahu bahwa daun yang berwarna hijau itu punya kloropyhl sedangkan yang kuning2 (misalnya), tidak punya kloropyhl. Kalau boleh tahu belajar IPAnya tentang apa misalnya? mungkin saya bisa bantu.

Ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam mengajarkan anak:
1. pengalamanku mengajarkan anak memang tidak cukup dengan mengandalkan buku2 dari sekolah, biasanya saya belikan buku tambahan untuk membantu saya mengajarkan si anak, buku2 tentang hewan atau tanaman2, dll.

2. perbedaan jenis kelamin, ada sedikit pengaruh terhadap kemampuan menghafal, biasanya, anak laki2 kurang suka terhadap materi2 yang menghafal dibandingkan anak2 perempuan, mereka lebih senang matematika, ilmu bumi, dll.

3. perkembangan kognisi anak, anak2 pada tahapan awal usia sekolah, masih memerlukan bantuan untuk mencerna informasi yang masuk; dalam artian, semakin konkrit informasi itu, maka semakin mudah dimengerti. misalnya: materi belajar anak usia praskolah adalah beda dengan usia sekolah, usia prasekolah, materinya penuh dengan warna dan besar2 penyajiannya, materi dalam bentuk gambar2 yang menarik dan soalnya sedikit2, sedangkan usia sekolah, materi sudah mulai disajikan dalam bentuk kalimat atau bahasa, mulai berkurang gambar2nya dan warna2nya juga tidak sebanyak usia praskolah.

Sebetulnya, usia sekolah itu sudah mulai memasuki tahapan perkembangan kognisi yang disebut sebagai abstrak conceptual yang ditandai bahwa anak mulai bisa membayangkan sesuatu, misalnya ketika bicara tentang alam semesta, dll.

Boleh tahu usia putra/putrinya ? Usia 3-7 th itu masuk ke dalam tahapan konkrit operasional, segala2 informasi harus konrit, real dan jelas, contoh: belajar tentang warna, bentuk (bulat, segitiga, kotak, dll), disajikan dengan contoh/alat peraga dan eye catching. Mulai usia 8th ke atas itu sudah masuk ke dalam tahapan perkembangan abstrak conceptual, misalnya soal2 dalam bentuk bahasa meskipun sebetulnya kalau disederhanakan bisa saja hanya perkalian 3x4 tapi sudah diperkenalkan dengan konsep bahasa, dll.

Berdasarkan pengalaman saya membuat materi pelajaran untuk anak2 SD, sebetulnya tingkat kesulitan dari setiap tingkatan kelas itu (materi kelas 1 VS materi kelas 2, dst.) masih dalam rentang tahapan perkembangan kognisi abstrak conceptual, hanya saja, quantity materinya yang ditambah, jadi pengertiannya, materi hafalan di kelas 2 juga ada dan kalau bisa naik ke kelas 3, coba ditelusuri lagi. bagaimana dulu metode pembelajaran menghafal putra/putri di kelas 2, apakah dengan proses drilling/dengan banyak2 contoh2 atau ada alat peraga.

Yang critical itu sebetulnya adalah pada bagaimana memilih metode pembelajaran yang paling tepat untuk anak, memang nantinya jadi si ibu yang harus kreatip untuk cari2 cara buat anak belajar dengan enak. Dulu sih ada metode yang namanya jembatan keledai seperti contoh untuk belajar not:
do - sado
re - sore
mi - mie bakso
fa - tifa, dst

kalau saya lihat, kasusnya putra/putri ibu lebih kepada bagaimana menimbulkan minat untuk menghafal bukan tidak bisa menghafal. Cara menimbulkan minat bisa dengan banyak hal:
1. ajak langsung berhubungan dengan materi pembelajarannya, misalnya: ajak jalan2
2. dengan bercerita (ibu menceritakan dan akhirnya ibunya jadi lebih pintar)
3. kalau pergi jalan2 sekeluarga, sekalian kasih tahu hal2 baru yang dilihatnya jadi, sambil jalan2 juga bisa belajar sekalian, belajar informal.
4. cari materi tambahan di toko buku, dengan gambar2 yang lebih 'eye catching'

Kalau boleh usul, jangan tekankan pada angka tetapi concern dengan pada bagaimana anak mengerti/memahami materi tersebut. Angka itu kadang2 bisa mengelabui kita, tapi pemahaman anak adalah mutlak, kemanapun dia pergi kalau dia memiliki pemahaman yang benar (red: anak mengerti dengan baik) pasti akan aman untuk dirinya sendiri dan orang tuanya. Tugas kita sebagai orang tualah yang membantu anak2 untuk memiliki pemahaman yang benar, dan tugas ini kritikal bu ! [Rm]

Waduh, anak kelas 3 sudah disuruh menghafal segitu banyaknya? Tidak heran kalau anakmu jadi putus asa begitu. Anakku juga sudah kelas 3 tapi karena dia autis aku memang sengaja cari sekolah yang tidak mengikuti kurikulum diknas, jadi pelajarannya tidak 'aneh-aneh'. Tapi apa iya, anak kelas 3 sudah harus dijejali hapalan yang seabrek-abrek seperti itu ? Kalau IPA okelah, tapi PLKJ atau apalah itu gunanya buat apa?

Karena sepertinya mau tidak mau anakmu harus tetap menghafal, untuk PLKJ lebih baik waktu weekend kamu ajak keliling/wisata langsung ke tempat yang harus dihafalkan anakmu. Kalau IPA juga bantu saja dengan memberi tahu langsung /memperlihatkan seperti apa sih stek, tunas, dll, jadi dia bisa kebayang bentuknya, baru sambil menghafal bahasa latinnya. Aku yakin kalau si anak melihat wujudnya akan lebih menarik dan memudahkan dia untuk mengingatnya. Sebenarnya sih itu tugas gurunya, tapi kalau di sekolah guru tidak bisa melakukannya ya sudah, demi anak sendiri terpaksa kamu yang harus bantu mengajarkan. Mudah-mudahan membantu ya. [Dm]

Kalau keponakanku dulu (anakku belum pada sekolah) diajak cerita sama ibunya, memang kebetulan kakakku rajin jadi dia baca dulu pelajaran sekolah anaknya trus dia cerita dengan penuh gaya sambil main-main tentunya, bisa sambil menggambar (yang digambar juga sesuai dengan yang diterangkan), atau sambil bermain peran, dsb, tapi herannya begitu besoknya ditanya -tanya sianak bisa jawab. Benar-benar tidak habis pikir aku, buat apa disuruh menghafalkan isinya museum? Kasian sekali anak-anak otaknya dijejalkan hal-hal yang tidak penting-penting amat. Kalau aku ditanya isinya apa saja, aku jawab kursi, meja, dll. Tapi benar buat anak-anak sebaiknya sistem mengajarnya adalah langsung melihat atau juga praktek, aku sudah merasakan manfaatnya di anak-anakku ketimbang cuma disuruh menghayal habis-habisan tanpa pernah melihat bentuknya. [En]

Penerapan metode belajar aktif dalam pembelajaran berbasis proyek.

Coba anda bayangkan situasi kelas dibawah ini….

Siswa di kelas lima sedang belajar mengenai konsep mesin yang sederhana, mereka belajar konsep kekuatan, gerak dan bekerja mengaanalisa sebuah mesin yang sederhana. Dari mesin yang rumit mereka memepelajari kaidah mesin yang paling prinsip. Siswa mengoleksi, mengatur, menghadirkan kembali data-data menggunakan program excel. Saat merancang mesin sederhana mereka berperan sebagai perancang sekaligus mempegunakan prinsip perencanaan, perakitan, uji coba sebelum mesin sederhana buatan mereka diluncurkan didepan teman-teman kelas mereka.

Apabila ada pertanyaan mengenai ‘metode apa yang paling efektif untuk mengajar?’ jawabannya bergantung pada tujuan pembelajaran, isi pembelajaran, dan guru yang akan menggunakannya. Tapi ada jawaban lain yang lebih baik dari itu semua yaitu ‘siswa mengajarkan siswa lainnya’ dikutip dari Wilbert J. McKeachie, pengarang buku Teaching tips: Strategies, research and theory for college and university teachers, Houghton-Mifflin (1998)

Illustrasi diatas serta kutipan dari buku merupakan gambaran dari dua metode mengenai pembelajaran yang pertama adalah ilustrasi dari pembelajaran dengan berbasis proyek sedangkan yang kedua adalah gambaran yang sederhana dan singkat mengenai pembelajaran aktif.

Pembelajaran berbasis proyek dan pembelajaran aktif,kedua-duanya saling berkaitan. Pembelajaran aktif merupakan ruh dari pembelajaran berbasis proyek.

Istilah yang sekarang ada dan memiliki esensi yang sama dengan belajar aktif adalah PAKEM atau pembelajaran aktif, efektif, dan menyenangkan. Istilah ini ada dalam kerangkan peningkatan mutu pendidikan manajemen berbasis sekolah (MBS). PAKEM adalah dua pilar dari empat pilar MBS. Dua pilar lainnya adalah manajemen yang transparan, dan keterlibatan masyarakat pendidikan.

Sedangkan pembelajaran berbasis proyek adalah proyek perseorangan atau grup dan dilaksanakan dalam jangka waktu tertentu, menghasilkan sebuah produk, yang hasilnya kemudian akan ditampilkan atau dipresentasikan. Saat pengerjaan kelas menggunakan berbagai macam bahan-bahan, dengan pendekatan belajar aktif atau berpusat pada siswa

Menggunakan: kontruktivis, problem solving, inquiry, riset, integrated studies, pengetahuan dan ketrampilan, evaluasi, refleksi, dll

Dua metode diatas mempertimbangkan aspek

a. Gaya belajar siswa

b. Taksonomi pembelajaran

c. Kecerdasan majemuk

Berikut ini adalah gambaran mengenai jalannya pembelajaran dengan konsep mesin sederhana, lanjutan dari illustrasi diatas.

VAK Visual Mencari gambar mesin sederhana dari Koran atau majalah dan film
Auditory Mendengar dan melihat penjelasan dari pekerja konstruksi yang menjelaskan bagaimana mereka menggunakan mesin sederhana saat bekerja.
Kinesthetic Membuat mesin sederhana yang terbuat dari tanah liat.
Otak kanan dan Otak kiri Otak kiri Mengikuti langkah demi langkah petunjuk membuat mesin sederhana.
Otak kanan Berdiskusi mengenai peran mesin sederhana dalam kehidupan kita sehari-hari
Kecerdasan majemuk Logis matematis Membuat mesin sederhana dari mesin yang rumit
bahasa Membuat karangan atau pidato menjelaskan mengenai pentingnya mesin sederhana dalam kehidupan .
Spasial Membuat presentasi menunjukkan perbedaan penggunaan mesin sederhana.
Musikal Membuat lagu tentang mesin sederhana.
Tubuh dan kinestetis Menggunakan benda-benda sederhana untuk menciptakan mesin sederhana.
Antar pribadi Bekerja dengan kelompok membuat video tentang mesin sederhana untuk siswa TK.
Dalam pribadi Membuat buku catatan harian mengenai pembelajaran.
alam Menemukan contoh dari mesin sederhana yang ada di alam,

Tantangan Dunia Pendidikan Kita

Dalam penyusunan RAPBN 2010 sementara, Departemen Pendidikan Nasional akan memperoleh porsi anggaran paling besar, dibandingkan Departemen lain. Sesuai kewajiban pemerintah untuk memprioritaskan anggaran pendidikan, hal tersebut sudah semestinya menjadi suatu kewajaran.

Pembiayaan serta alokasi dana pendidikan hanyalah salah satu dari sekian banyak persoalaan yang harus dihadapi menteri pendidikan yang akan datang. Baik secara fungsional maupun struktural, pendidikan kita memang perlu mendapatkan perhatian utama demi kemajuan dan kesejahteraan ke depan.

Tantangan pertama bagi sang menteri beserta Depdiknas ialah untuk mempertanggungjawabkan dana APBN tersebut beserta janjinya dengan sekolah gratis. Sebagai suatu program yang sudah dicanangkan dan digembar-gemborkan, masyarakat tentu menanti pertanggung jawabannya.
Namun, persoalan lain yang lebih mendasar menanti untuk diselesaikan satu per satu. Persoalan dunia pendidikan dengan masalah lapangan kerja adalah salah satunya. SMK sebagai solusi jangka pendek (atau mungkin juga menengah) harus dikembangkan lagi dan mempertahankan prestasi yang telah diraih dalam beberapa tahun terakhir.

Tetapi, di sisi lain perlu ditegaskan bahwa pendidikan bukanlah institusi yang berfungsi untuk mencetak tenaga kerja semata. Logika link and match yang dianut adalah salah dan terlampau pragmatis. Dampaknya, dunia pendidikan kita terbawa arus industrialisasi mulai dari komersialisasi lembaga hingga pada cara berfikir positivistik dengan mematok nilai ujian sebagai indikator keberhasilan.

Sudah saatnya ditegaskan kembali bahwa UN tidak bisa menjadi alat penentu kelulusan siswa, dengan alasan apapun. Keteguhan pemerintah pada pelaksanaan UN hanya semakin memperjelas cara pandang terhadap pendidikan sebagai sebuah industri, karena ujian nasional tidak ubahnya sebuah ISO pada lembaga formal untuk mengukur tingkat keberhasilan kinerja.
Janganlah heran jika dunia pendidikan kita semakin kehilangan rohnya, dan hanya dibungkus oleh daging berupa lembaga-lembaga pendidikan yang mencoba untuk menarik keuntungan dari kebutuhan masyarakat. Dibukanya dunia pendidikan bagi arus modal lokal dan asing serta UU BHP secara terang-terangan memperlihatkan pengurangan peran pemerintah dalam dunia pendidikan.

Dialog mengenai BHP pun sudah dihidupkan dimana-mana, dengan sebuah konsensus yang berisi penolakan. Tapi nyatanya, seruan masyarakat tersebut ditanggapi pemerintah dengan menutup kuping.

Komersialisasi pendidikan yang sudah, dan kemungkinan besar akan justru semakin jelas terjadi, bukan hanya merugikan mereka yang secara finansial tertutup peluangnya untuk menikmati pendidikan. Dalam jangka panjang, negara dan bangsa inilah yang akan merasakan akibatnya. Sumber daya manusia yang berkualitas hanya akan ditemukan di kelompok atau kelas masyarakat yang latar belakangnya memang memungkinkan secara materiil.

Bahaya lain dari industrialisasi ialah pragmatisme dalam cara berfikir dan bertindak. Dengan cara pandang bahwa pendidikan hanya dilihat sebagai investasi, maka nilai –nilai yang ditanamkan di dalam dunia pendidikan akan terbatas pada nilai-nilai yang berguna bagi dunia usaha dan bukan untuk pengembangan ilmu serta pengetahuan itu sendiri.

Padahal, pendidikan yang menurut H.A.R. Tilaar pada hakikatnya berperan untuk memerdekakan dan mengembangkan potensi anak manusia, semakin terpinggirkan oleh peran media massa dan juga arus globalisasi. Untuk bisa kembali kepada hakikat pendidikan tersebut, maka komponen utama pendidikan, yakni guru itu sendiri, juga harus dijauhkan dari cara berfikir pragmatis yang menjebak guru dalam perangkap prestasi. Cara belajar yang dialogis harus dikembangkan untuk mengajak siswa berfikir secara kritis. Untuk itu, guru tidak boleh lagi memasuki ruang kelas dengan perut kosong. Kesejahteraan guru sudah semestinya adalah suatu kewajaran.

Siapapun menteri pendidikan berikutnya, ia memiliki tugas mulia untuk mengembalikan dunia pendidikan kita untuk kembali pada khitahnya yakni mengembangkan fikiran dan membangun potensi diri manusia Indonesia. Tetapi pada saat yang bersamaan, menteri berikutnya juga harus tegar menghadapi kenyataan bahwa pendidikan akan selalu dilihat sebagai tangga menuju dunia kerja.

foto:/katanakirei.files.wordpress.com

MENYINGKAPI PELAKSANAAN “KTSP”

Oleh : ISRONI

Sejak ditetapkannya KTSP (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan) yang menggantikan kurikulum sebelumnya, yaitu KBK yang pelaksanaannya belum memberikan hasil yang optimal sesuai yang diharapkan oleh pemerintah. Dengan munculnya KTSP yang konon katanya kurikulum tersebut dapat mempermudah para guru dalam menentukan tujuan akhir dari pembelajaran tersebut dan dapat digunakan atau dilaksanakan dimana saja, baik itu di kota maupun di daerah-daerah terpencil. Tapi anehnya semenjak ditetapkanya malah sebaliknya mengundang banyak pertanyaan dimana-mana, baik dikalanagan pemerintah maupun oleh kalangan para guru sebagai pelaksanan kurikulum tersebut sangat resah dan bingung dalam melaksanaannya. Akan tetapi pemerintah merespon pertanyan tersebut dari para guru agar tenang dan jangan resah dalam melaksanakannya dilapangan. Karena kurikulum tersebut hanya modipikasi dari kurikulum-kurikulum sebelumnya. Dalam hal ini KTSP juga dikembangkan sesuai dengan satuan pendidikan, potensi daerah/ sekolah, karakteristik sekolah/darah, sosial budaya masyarakat setempat, dan karakteristik peserta didik setempat. Dengan diberlakukannya KTSP yang katanya hanya untuk sebagai penyempurna dari kurikulum sebelumnya dan untuk mengembangkan kualitas pendidikan kea rah yang lebih baik. Akankah hal itu dapat terwuju?. Untuk menjawab hal tersebut mari kita lihat pakta dilapangan tentang pelaksanaannya, sebagian besar para guru menggap perubahan tersebut bukan sebagai suatu langkah dalam meningkat kualitas pendidikan. Karena sebagaian besar guru kurang mengerti dalam penyusunan dan pelaksanannya, untuk mengatasi hal tersebut sangat diharapkan peran dari kepada pemerintah dan para gurudalam meningkatkan kualitas pendidikan yang diharapkan dari kurikulum tersebu.

Ada dua hal yang harus di perhatikan \pemerintah dan para guru dalam meningkatkan kualitas pendidikan yang diharapkan.

Pertama, bagaimana peran guru dalam menyikapi diberlakukannya KTSP, karena kalau respon atau tanggapan guru terhadap diberlakukannya KTSP itu bukan sebagai perubahan, akan tetapi senbagai masalah dan penghambat dalam pelaksanaannya dilapangan, hal ini tidaklah mungkin akan terwujud kualitas pendidikan yang diharapkan.

Kedua, Bagi guru, kepala sekolah dan dewan pengawas dengan adanya KTSP ini agar menjadi iklim pembelajaran yang kondusip bagi terciptanya suasana yang aman , nyaman dan tertib, sehuingga proses pembelajaran dapat berlangsung dengan tenang dan menyenangkan. Untuk meningkatkan kualitas peserta didik banyak kebijakan yang harus di perhatikan oleh elemen atau lembaga-lembaga yang ada di daerah atau sekolah tersebut dalam melaksanakan otonomi sekolah an kepemimpinan sekolah dan partisipasi masyarakat serta kemandirian guru dalam menyikapi perkembangan pendidikan pada zaman sekarang ini. Oleh karena bukan suatu yang mustahil tejadi kalau tujuan KTSP terseb dapat terwujud, semua ini tergantung kepada pribadi kita dan sekolah dalam menyikapinya.

Konsep Pendidikan Anak

Seorang ibu haruslah memiliki wawasan dan keilmuan yang tinggi. Ibu harus terus memperkaya dirinya untuk memahami perkembangan kondisi anaknya (baik aspek fisik, pikir dan nalurinya). Ia juga harus mengetahui konsep pendidikan anak sesuai dengan tahapan perkembangannya dan program-program yang wajib ia jalankan untuk memenuhi seluruh hak-hak anak-anaknya.

Ada beberapa konsep pendidikan yang perlu dipahami oleh ibu dalam mendidik anak-anaknya sesuai dengan tahapan perkembangannya, antara lain :

a. Bahwa setiap anak memiliki karakteristik yang berbeda sehingga perlakuan atau metode pendekatan yang dipakai untuk masing-masing anak dalam proses pembelajarannya bisa jadi berbeda.

b. Anak akan mengalami perubahan dengan pendidikan yang diberikan dan perubahan yang terjadi pada masing-masing anak tidak sama dan instan tetapi bertahap, maka di sinilah diperlukan kesabaran dan tidak boleh membanding-bandingkan kemampuan anak.

c. Anak usia dini merupakan masa emas, yang akan dengan cepat dapat menyerap informasi. Di sinilah diperlukan memasukkan pengajaran yang Islami sejak dini tanpa anak merasa terbebani (bermain sambil belajar). Dan kemudian berupaya mengkaitkan antara informasi yang satu dengan yang lain. Dengan kata lain merangsang proses berfikirnya. Semua aspek perkembangan saling berhubungan, sehingga ibu harus memiliki pengetahuan yang menyeluruh tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tumbuh kembang anak, baik fisik, mental, maupun spiritualnya.